Suka duka di TK.
Dulu, aku sempat mengajar di TK selama 7 tahun. Sebenarnya aku kurang suka berprofesi sebagai guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa terutama guru TK tapi demi mewujudkan cita-cita orang tua jadilah aku seorang guru.
Setiap pilihan pasti ada resikonya begitu juga pilihanku untuk mengikuti nasehat orang tua. Banyak sekali suka dan duka yang aku alami selama jadi guru mulai dari mengurus anak-anak selama di sekolah hingga ke cara pengajarannya.
Sukanya di TK adalah pada saat tanggal 1 tiap bulannya (baca : gajian) dan pada saat ada acara rekreasi jalan-jalan ke tempat wisata serta di saat-saat musim ulang tahun karena mereka pasti mengadakan acara ulang tahun di sekolah dan sudah pasti sebagai ibu gurunya mendapat jatah makanan lebih besar di banding guru-guru lainnya tapi di saat menjalani hari-hari sebagai ibu guru benar-benar menguras tenaga dan pikiran untuk menghadapi 15 anak kecil yang notabene anak orang lain dengan karakter dan tingkah polah yang sangat kompleks, bayangkan! Satu anak saja memiliki bermacam-macam "keajaiban" bagaimana jika 15 anak di gabung jadi satu kelas?
Cara mendidik anak TK tidak sama dengan SD atau SMP, mendidik mereka harus memiliki kesabaran dan waktu extra serta taktik yang tepat pada sasaran seperti salah satu kejadian yang paling membekas hingga saat ini.
Namanya Alif, dia anak usia 5 tahun dengan sifat yang paling "Ajaib" di antara teman-temannya. Dia seperti tidak punya rasa lelah sedetikpun, ada saja ulahnya yang buat kami para guru terutama aku sebagai wali kelasnya kerap mengelus dada.
Waktu itu aku sudah membuat program untuk mengajarkan sifat air pada anak-anak dengan metode ala anak-anak atau bermain air di halaman kelas, tapi bukannya ikut "bermain air"
Alif malah berlari keluar halaman, mengganggu teman-temannya bahkan ada yang di buat menangis olehnya karena di siram hingga basah kuyup.
Awalnya aku masih bisa bersabar tapi karena ulahnya yang membuat salah satu temannya basah kuyup itu membuatku spontan menarik dia ke dalam ruangan yang sengaja aku gunakan untuk bicara 4 mata dengan anak yang memberi kasus padaku.
Di dalam ruangan Alif semakin menjadi-jadi, mungkin karena takut di marahi dia menangis keras sekali sambil melempar barang-barang yang ada di dekatnya hingga ada yang pecah. Walau begitu ku putuskan untuk mendiamkan dulu dia hingga tenang baru aku akan mengajaknya bicara dan Alhamdulillah akhirnya dia diam kelelahan meskipun masih terdengar isak tangisnya sesekali.
"Alif kenapa? Kok sekarang Alif selalu ganggu teman-teman? Apa karena Alif udah ga sayang lagi sama teman-teman dan bu guru?" Tanyaku padanya sambil merengkuh dan memangkunya.
"Alif sayang sama bu gulu, Alif juga sayang sama teman-teman, tapi Alif benci sama mama papa! Abisnya Alif ga pelnah jalan-jalan, mama papa kelja telus...hiks...hiks...".
Mendengar jawabannya aku tiba-tiba merasa sangat bersalah hingga semakin erat ku memeluknya. "Kalau begitu harusnya Alif bilang jujur sama mama papa kalau Alif mau jalan-jalan sama mereka, ibu yakin mama papa pasti mengerti karena mereka sayang sama Alif. Tapi Alif harus mengerti, mama papa kerja untuk Alif, coba kalau mama papa ga kerja Alif ga bisa sekolah, ga bisa beli mainan atau jajan, jadi Alif harus bersyukur dan bersabar...gimana, alif ngerti kan yang ibu bilang?". "Iya bu gulu, Alif ngelti tapi maafin Alif ya bu?" Katanya sambil memainkan jemariku. "Iya, maafin ibu juga ya? Dan Alif juga mau kan minta maaf sama teman-teman?". Anggukan dan senyumannya sudah cukup membuatku senang bahwa caraku menyelesaikan kasus berhasil hanya tinggal mencatatnya dalam buku kasus.
Itulah salah satu cerita suka dukaku di TK, semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi calon ibu guru dan calon ibu rumah tangga.
No comments:
Post a Comment