Friday, September 19, 2014

#SANG PENANTANG KEHIDUPAN.

"Ayaahh ...! jangan tinggalin Eko yah!" ratapan Eko membuat semua yang datang jadi terharu. Bagaimana tidak, Pak Parmin harus meninggalkan seorang anak sendirian di dunia, tanpa ada ibu atau saudara. 

Eko, sebuah nama sederhana sesederhana orangnya. Sejak di tinggal pergi ayah dan ibunya, dia hidup sebatang kara. Jangankan untuk sekolah untuk makan pun dia harus bekerja keras, membanting tulang memeras keringat sebagai kuli bangunan di usianya yang baru 7 tahun.

"Pak, saya ikut kerja di sini ya? saya bisa ko bantu-bantu angkat batu bata, ngaduk semen, dan lain-lain," ujarnya waktu itu ke mandor bangunan. Awalnya Pak Joko ragu menerimanya karena dia masih kecil, tapi karena Eko memaksanya maka jadilah dia bekerja di tempat Pak Joko.

Pak Joko kagum dengan semangat Eko. Dia bekerja tanpa ada keluhan di bibirnya, dia seperti menantang kehidupan yang tidak berpihak padanya. Di usia yang masih kecil dia tidak tahu apa itu bermain, belajar, ataupun jajan.

Pada suatu hari dia memanggil Eko ke ruangannya dan bertanya "Ko, kamu masih mau sekolah ga?" 


"Mau Pak, tapi bagaimana bisa saya sekolah kalau buat makan aja susah." Jawab Eko.

 "Kalau begitu, sekarang kamu ikut Bapak ke rumah. Bapak belum punya anak, jadi ibu suka kesepian sendirian di rumah. Kamu mau ga jadi anak bapak? nanti kamu Bapak sekolahkan biar cita-citamu tercapai. Kamu mau kan jadi anak Bapak?"

Perkataan Pak Joko membuat Eko kehilangan kata-kata. Sesaat dia hanya diam terpaku dan hanya mengeluarkan air mata. Dia tidak menyangka, masih ada orang baik dan peduli padanya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mengangguk. Pak Joko pun hanya tersenyum dan lalu memeluknya.

#karya Re tiapian17 080614

No comments:

Post a Comment