Matahari.
Entah kenapa, tapi aku tertarik padanya. Wajahnya bulat bercahaya, senyumnya tidak pernah lepas dari bibir tebal nan sexy.
Namanya Matahari. Dia janda beranak satu yang di tinggal mati suaminya Enam bulan yang lalu.
Awalnya biasa saja seperti tetangga yang lain, aku dekat dengan anaknya, Bintang yang baru berumur 4 tahun. Mungkin karena kedekatanku dengan Bintanglah yang membuat hati kami berdentum lebih keras dari biasanya setiap kali bertemu.
"Ri, bolehkah aku datang bersama kedua orang tuaku untuk meminangmu?" tanyaku suatu hari.
"Tapi aku janda Mas, apa kata orang tuamu nanti? bagaimana dengan tetangga? aku enggak mau di cemooh sama mereka sebagai janda penggoda, apalagi makam suamiku masih basah" jawab Matahari dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah, kita dekati dulu orang tuaku hingga 3 bulan ke depan. Lagipula aku sudah tidak tahan ingin halal denganmu. Aku enggak peduli sama pendapat orang lain," jawabku meyakinkannya.
Dan akhirnya, 3 bulan setelah percakapan kami orang tuaku datang melamarnya yang disusul dengan pernikahan sederhana kami 3 bulan kemudian.
"Saya terima nikahnya, Matahari binti Wawan Setiawan dengan mas kawin emas sebesar 5gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai."
Alhamdulillah, akhirnya dia halal juga untukku. Kini aku memiliki Bintang dan Matahari yang selalu menerangi hidupku. Selamanya.
Re-200914
Tamat.
No comments:
Post a Comment