Judul. : LORONG WAKTU.
Karya : Eros rostiana
Tgl. : 19 Sept 2014
Bukit-bukit tinggi, hamparan laut luas, rimbunnya pepohonan, dan sampan kecil yang sering mereka naiki menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka berdua.
Nida dan Jeany, dua anak yang bersahabat sejak lama sedang asyik memperhatikan ikan-ikan yang berenang ketika tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh dari tebing.
"Byuurrr!" "Jean, kamu dengar ga? Ada yang jatuh dari tebing! Kita lihat yuk?" Ajak Nida pada sahabatnya. Mereka langsung menarik sampan dan menaikinya, mencari tahu apa gerangan yang jatuh ke laut.
Hasil pencarian di atas laut nihil. Karena rasa penasaran yang tinggi mereka menepi dan langsung berlari melewati gua dekat laut kemudian naik ke atas bukit. Namun setelah sampai di atas bukit mereka tidak menemukan apapun.
"Ga ada apa-apa da, kita pulang aja yuk?" Ajak Jeany karena merasa tidak berhasil menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk mengenai suara tadi.
Baru selangkah mereka berjalan, tiba-tiba mata Jeany melihat sesuatu dari balik semak-semak. "Da, apaan tuh?" Tunjuk Jeany. Setelah mereka dekati, ternyata yang mereka lihat adalah sebuah payung dan buku bertuliskan "my last diary" di sampul depan. "Aneh, punya siapa ya ini? Bukunya masih bagus, tapi gak bisa dibuka" ucap Jeany sambil membulak-balik buku tersebut. "Buka aja Jean, siapa tahu kita bisa kembalikan ke yang punya kalau ada biodatanya di dalam buku," jawab Nida.
Baru saja mau mereka buka, terdengar suara bunda Jeany berteriak menyuruh mereka pulang "Jeany ...! Lekas pulang, hari sudah semakin senja!" "Iya Bunda, sebentar" teriak Jeany dan mereka pun pulang, meninggalkan benda-benda misterius yang mereka temukan.
"Maafkan aku sobat, aku sudah tidak kuat. Beban ini semakin berat ku rasa sejak tiada lagi orang tua. Usah kau menangisi kepergianku ini, kenanglah aku berdasarkan kenangan kebahagiaan yang telah kita alami bersama di sini, di tempat ini. Terima kasih atas kenangan yang telah kau berikan padaku, ku titipkan buku ini dan bacalah jika kau merindukanku."
Setelah menulis, si gadis manis berjalan menuju tepi bukit. Dia tersenyum bahagia karena akhirnya semua penderitaannya akan hilang. Dan dia pun terbang ke bawah. "Byuurrr!"
"Nidaaaaa ...! Jangaaannn!" Teriakan Jeany terlambat. Dengan terburu-buru dia angkat gaunnya dan segera berlari ke tepi bukit, tempat di mana Nida berdiri barusan. "Nidaaa ...! Kenapa kau nekat begini? Kenapa!" Jerit Jeany meratapi kepergian sahabatnya, Nida.
Namun ratapan hanyalah tinggal ratapan. Jeany berjalan dengan limbung hendak pulang ketika dia melihat buku yang Nida tinggalkan untuk dia dan membacanya. Baru saja dia hendak mengambil payung dan buku milik Nida ada suara langkah terburu-buru dan dia bersembunyi di balik semak-semak.
"Aneh, punya siapa ya ini? Bukunya masih bagus, tapi gak bisa dibuka" ucap Jeany sambil membulak-balik buku tersebut. "Buka aja Jean, siapa tahu kita bisa kembalikan ke yang punya kalau ada biodatanya di dalam buku."
Jeany mendekap mulutnya, berusaha agar suaranya tidak terdengar melihat semua itu. Kini dia tahu, suara apa yang dia dengar waktu kecil bersama Nida sahabatnya. "Ini tidak mungkin! Ini pasti mimpi!" Ucapnya dalam hati. Dia mencubit lengannya, dan terasa sakit. "Ini bukan mimpi!" Teriaknya, masih dalam hati.
Ketika dia mendengar suara bundanya berteriak menyuruh pulang dan melihat dia berlari menjauh, Jeany keluar dari persembunyiannya dan mengambil buku serta payung milik Nida yang bertuliskan namanya dan berjalan menuju tepi laut tempat dulu dia bermain dan bercanda bersama Nida.
Dia berdiri di tepi laut dengan memakai payung sahabatnya. "Lihat Nida ... Lihatlah surga kita ini. Sampannya masih ada, lautnya masih indah, bukitnya masih berdiri dengan kokoh Da, yang tidak ada kini hanya pohon-pohon yang mengering tanpa daun dan kamu, iya Da ... Pohon-pohon ini seperti aku tanpamu, kering tanpa dedaunan." Gumam Jeany pelan seolah-olah sedang berbincang dengan sahabatnya.
Karya Re16 0210714
No comments:
Post a Comment