JUDUL : KAPAN?
KARYA : Eros rostiana
TGL. : 210914
Matahari enggan menampakkan diri
Pipit
Belibis
Kenari
Kembali ke sangkar diri
Laut biru membeku
Pun Biduk sampan belum jua terkayuh
Nelayan tiada ada duduk bersimpuh
Hanya diri mematung menunggu
Akankah sampan terkayuh?
Oleh Siapa?
Di mana?
Diakah?
Atau dia?
Kapan?
Monday, September 22, 2014
Sunday, September 21, 2014
Aulanya besar, penuh dengan wartawan dan anggota workshop yang sudah mulai memadati ruangan. Semua wartawan jepret sana jepret sini, ada yang terlihat sedang mewawancarai salah satu anggota workshop, dan ada juga yang masih menyiapkan keperluan wawancaranya.
"kenapa Ibu...Sri ikut acara workshop ini?" tanya salah satu wartawan dari stasiun tv terkenal setelah sebelumnya melihat nama yang tertempel di dada si ibu berjilbab biru. "saya senang sama penulisnya mas, saya sudah baca semua karyanya dan yang paling saya suka judulnya serpihan hati yang terkoyak. wiihh! sediiih banget mas saya bacanya! mas udah baca belum? baca dong mas kalau belum, tar nyesel loh! udah gitu mas ya, saya tuh penasaran banget sama penulisnya, dia itu laki-laki atau perempuan soalnya di setiap buku yang dia tulis namanya cuma EROS, itukan nama laki-laki ya mas kayak EROS DJAROT atau EROS Sheila On 7, juga laki-laki kan ya mas ya? tapi dia gosipnya perempuan mas mangkanya saya nekat datang ke sini jauh-jauh dari surabaya karena pengen tau saya mas, bener deh mas ciyuuss!" cerocos bu sri tanpa titik tanpa koma sambil senyum-senyum genit supaya kelihatan cantik di depan kamera. Si wartawan sampai bengong sambil berkata dalam hati " ya ampun nih ibu genitnyaaa minta ampun! kapok deh gue wawancara orang kayak begini!" Tak berapa lama kemudian terdengar suara dari pengeras suara "para hadirin yang terhormat mohon tenang semua karena acara akan segera di mulai sebentar lagi," dan tiba-tiba hening tak ada suara sama sekali, hanya suara cicak yang terdengar dan spontan para peserta workshop ber-shuutt ria sambil mendelik ke cicak yang tak bersalah sampai-sampai si cicak kabur dari ruangan.
"kenapa Ibu...Sri ikut acara workshop ini?" tanya salah satu wartawan dari stasiun tv terkenal setelah sebelumnya melihat nama yang tertempel di dada si ibu berjilbab biru. "saya senang sama penulisnya mas, saya sudah baca semua karyanya dan yang paling saya suka judulnya serpihan hati yang terkoyak. wiihh! sediiih banget mas saya bacanya! mas udah baca belum? baca dong mas kalau belum, tar nyesel loh! udah gitu mas ya, saya tuh penasaran banget sama penulisnya, dia itu laki-laki atau perempuan soalnya di setiap buku yang dia tulis namanya cuma EROS, itukan nama laki-laki ya mas kayak EROS DJAROT atau EROS Sheila On 7, juga laki-laki kan ya mas ya? tapi dia gosipnya perempuan mas mangkanya saya nekat datang ke sini jauh-jauh dari surabaya karena pengen tau saya mas, bener deh mas ciyuuss!" cerocos bu sri tanpa titik tanpa koma sambil senyum-senyum genit supaya kelihatan cantik di depan kamera. Si wartawan sampai bengong sambil berkata dalam hati " ya ampun nih ibu genitnyaaa minta ampun! kapok deh gue wawancara orang kayak begini!" Tak berapa lama kemudian terdengar suara dari pengeras suara "para hadirin yang terhormat mohon tenang semua karena acara akan segera di mulai sebentar lagi," dan tiba-tiba hening tak ada suara sama sekali, hanya suara cicak yang terdengar dan spontan para peserta workshop ber-shuutt ria sambil mendelik ke cicak yang tak bersalah sampai-sampai si cicak kabur dari ruangan.
Matahari.
Entah kenapa, tapi aku tertarik padanya. Wajahnya bulat bercahaya, senyumnya tidak pernah lepas dari bibir tebal nan sexy.
Namanya Matahari. Dia janda beranak satu yang di tinggal mati suaminya Enam bulan yang lalu.
Awalnya biasa saja seperti tetangga yang lain, aku dekat dengan anaknya, Bintang yang baru berumur 4 tahun. Mungkin karena kedekatanku dengan Bintanglah yang membuat hati kami berdentum lebih keras dari biasanya setiap kali bertemu.
"Ri, bolehkah aku datang bersama kedua orang tuaku untuk meminangmu?" tanyaku suatu hari.
"Tapi aku janda Mas, apa kata orang tuamu nanti? bagaimana dengan tetangga? aku enggak mau di cemooh sama mereka sebagai janda penggoda, apalagi makam suamiku masih basah" jawab Matahari dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah, kita dekati dulu orang tuaku hingga 3 bulan ke depan. Lagipula aku sudah tidak tahan ingin halal denganmu. Aku enggak peduli sama pendapat orang lain," jawabku meyakinkannya.
Dan akhirnya, 3 bulan setelah percakapan kami orang tuaku datang melamarnya yang disusul dengan pernikahan sederhana kami 3 bulan kemudian.
"Saya terima nikahnya, Matahari binti Wawan Setiawan dengan mas kawin emas sebesar 5gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai."
Alhamdulillah, akhirnya dia halal juga untukku. Kini aku memiliki Bintang dan Matahari yang selalu menerangi hidupku. Selamanya.
Re-200914
Tamat.
Entah kenapa, tapi aku tertarik padanya. Wajahnya bulat bercahaya, senyumnya tidak pernah lepas dari bibir tebal nan sexy.
Namanya Matahari. Dia janda beranak satu yang di tinggal mati suaminya Enam bulan yang lalu.
Awalnya biasa saja seperti tetangga yang lain, aku dekat dengan anaknya, Bintang yang baru berumur 4 tahun. Mungkin karena kedekatanku dengan Bintanglah yang membuat hati kami berdentum lebih keras dari biasanya setiap kali bertemu.
"Ri, bolehkah aku datang bersama kedua orang tuaku untuk meminangmu?" tanyaku suatu hari.
"Tapi aku janda Mas, apa kata orang tuamu nanti? bagaimana dengan tetangga? aku enggak mau di cemooh sama mereka sebagai janda penggoda, apalagi makam suamiku masih basah" jawab Matahari dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah, kita dekati dulu orang tuaku hingga 3 bulan ke depan. Lagipula aku sudah tidak tahan ingin halal denganmu. Aku enggak peduli sama pendapat orang lain," jawabku meyakinkannya.
Dan akhirnya, 3 bulan setelah percakapan kami orang tuaku datang melamarnya yang disusul dengan pernikahan sederhana kami 3 bulan kemudian.
"Saya terima nikahnya, Matahari binti Wawan Setiawan dengan mas kawin emas sebesar 5gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai."
Alhamdulillah, akhirnya dia halal juga untukku. Kini aku memiliki Bintang dan Matahari yang selalu menerangi hidupku. Selamanya.
Re-200914
Tamat.
PATAH.
Re_200914
Angin bertiup membelai rambut. Kurentangkan tangan dan berjinjit berusaha memeluknya.
Terlihat bintang berkelap-kelip di bawah sana, bergerak merayap seperti semut. Duhai ... betapa inginku menggapainya.
"Bintang, kalau memang kamu ga mau terima rasa ini, maka biarlah rasa ini patah. Tunggulah sebentar lagi cinta."
Bruuukkkk! "wah apaan tuh?!"
"AaarRgh ... tolooong! ada yang jatuh dari jembatan!"
Re_200914
Angin bertiup membelai rambut. Kurentangkan tangan dan berjinjit berusaha memeluknya.
Terlihat bintang berkelap-kelip di bawah sana, bergerak merayap seperti semut. Duhai ... betapa inginku menggapainya.
"Bintang, kalau memang kamu ga mau terima rasa ini, maka biarlah rasa ini patah. Tunggulah sebentar lagi cinta."
Bruuukkkk! "wah apaan tuh?!"
"AaarRgh ... tolooong! ada yang jatuh dari jembatan!"
MIMPI TERAKHIR.
Aku punya banyak mimpi, tapi mimpi terakhirku adalah bersamamu selamanya.
Inginku bertemu denganmu, bukan dalam mimpi tapi dalam nyata.
Telah ku korbankan hidupku hanya untukmu.
Tapi kalau memang tak bisa memilikimu setidaknya izinkan aku mencintai dan menyayangimu.
Kan kucium hujan jika merindukanmu.
aku akan mencintaimu hingga akhir.
Karya Re06 050814
Aku punya banyak mimpi, tapi mimpi terakhirku adalah bersamamu selamanya.
Inginku bertemu denganmu, bukan dalam mimpi tapi dalam nyata.
Telah ku korbankan hidupku hanya untukmu.
Tapi kalau memang tak bisa memilikimu setidaknya izinkan aku mencintai dan menyayangimu.
Kan kucium hujan jika merindukanmu.
aku akan mencintaimu hingga akhir.
Karya Re06 050814
BABI NGESOT versi Re.
Bekasi_200914
"Jegeerrrr! duarrrr! cetarrrr!" petir bersahutan, menambah kelam malam itu. Aku yang sedang terlelap terbangun dan tiba-tiba ... nguik nguik. Ku lihat ada babi tanpa kaki ngesot mendatangiku.
"AaaarrRggghhhh! Piglet kamu kenapa?! ayo, kita ke dokter hewan sekarang juga!" #edisi maksa bikin fiksimini
Bekasi_200914
"Jegeerrrr! duarrrr! cetarrrr!" petir bersahutan, menambah kelam malam itu. Aku yang sedang terlelap terbangun dan tiba-tiba ... nguik nguik. Ku lihat ada babi tanpa kaki ngesot mendatangiku.
"AaaarrRggghhhh! Piglet kamu kenapa?! ayo, kita ke dokter hewan sekarang juga!" #edisi maksa bikin fiksimini
Airmata merebak sempurna,
Gemuruh datang di dada mengingat dirimu yang di sana
Kapan, bagaimana, di mana,
Entah ...
Akankah semua indah seperti yang aku minta,
atau seperti ini selamanya?
Entahlah
Yang pasti doaku selalu mengalir hanya untuknya dan akan selalu hanya untuknya
Seperti airmata ini
Seperti rasa Ini
Aku merindukannya.
#re200914
Gemuruh datang di dada mengingat dirimu yang di sana
Kapan, bagaimana, di mana,
Entah ...
Akankah semua indah seperti yang aku minta,
atau seperti ini selamanya?
Entahlah
Yang pasti doaku selalu mengalir hanya untuknya dan akan selalu hanya untuknya
Seperti airmata ini
Seperti rasa Ini
Aku merindukannya.
#re200914
JUDUL : CINTA
KARYA : Re_200914
Cinta?
Ah! bagiku cinta itu semu
Jika cinta adalah warna
Maka itu adalah abu-abu
Tiada pernah bisa kumenggapainya
Hingga enggan kumengejarnya
Biarlah ku hidup tanpa cinta
Cukuplah ku merasakannya saja
Tanpa pernah memilikinya
Hidup tanpa cinta
Seperti ada tapi tiada
Bagaikan kapas di udara
Melayang tanpa arah
Hampa ...
KARYA : Re_200914
Cinta?
Ah! bagiku cinta itu semu
Jika cinta adalah warna
Maka itu adalah abu-abu
Tiada pernah bisa kumenggapainya
Hingga enggan kumengejarnya
Biarlah ku hidup tanpa cinta
Cukuplah ku merasakannya saja
Tanpa pernah memilikinya
Hidup tanpa cinta
Seperti ada tapi tiada
Bagaikan kapas di udara
Melayang tanpa arah
Hampa ...
Suka duka di TK.
Dulu, aku sempat mengajar di TK selama 7 tahun. Sebenarnya aku kurang suka berprofesi sebagai guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa terutama guru TK tapi demi mewujudkan cita-cita orang tua jadilah aku seorang guru.
Setiap pilihan pasti ada resikonya begitu juga pilihanku untuk mengikuti nasehat orang tua. Banyak sekali suka dan duka yang aku alami selama jadi guru mulai dari mengurus anak-anak selama di sekolah hingga ke cara pengajarannya.
Sukanya di TK adalah pada saat tanggal 1 tiap bulannya (baca : gajian) dan pada saat ada acara rekreasi jalan-jalan ke tempat wisata serta di saat-saat musim ulang tahun karena mereka pasti mengadakan acara ulang tahun di sekolah dan sudah pasti sebagai ibu gurunya mendapat jatah makanan lebih besar di banding guru-guru lainnya tapi di saat menjalani hari-hari sebagai ibu guru benar-benar menguras tenaga dan pikiran untuk menghadapi 15 anak kecil yang notabene anak orang lain dengan karakter dan tingkah polah yang sangat kompleks, bayangkan! Satu anak saja memiliki bermacam-macam "keajaiban" bagaimana jika 15 anak di gabung jadi satu kelas?
Cara mendidik anak TK tidak sama dengan SD atau SMP, mendidik mereka harus memiliki kesabaran dan waktu extra serta taktik yang tepat pada sasaran seperti salah satu kejadian yang paling membekas hingga saat ini.
Namanya Alif, dia anak usia 5 tahun dengan sifat yang paling "Ajaib" di antara teman-temannya. Dia seperti tidak punya rasa lelah sedetikpun, ada saja ulahnya yang buat kami para guru terutama aku sebagai wali kelasnya kerap mengelus dada.
Waktu itu aku sudah membuat program untuk mengajarkan sifat air pada anak-anak dengan metode ala anak-anak atau bermain air di halaman kelas, tapi bukannya ikut "bermain air"
Alif malah berlari keluar halaman, mengganggu teman-temannya bahkan ada yang di buat menangis olehnya karena di siram hingga basah kuyup.
Awalnya aku masih bisa bersabar tapi karena ulahnya yang membuat salah satu temannya basah kuyup itu membuatku spontan menarik dia ke dalam ruangan yang sengaja aku gunakan untuk bicara 4 mata dengan anak yang memberi kasus padaku.
Di dalam ruangan Alif semakin menjadi-jadi, mungkin karena takut di marahi dia menangis keras sekali sambil melempar barang-barang yang ada di dekatnya hingga ada yang pecah. Walau begitu ku putuskan untuk mendiamkan dulu dia hingga tenang baru aku akan mengajaknya bicara dan Alhamdulillah akhirnya dia diam kelelahan meskipun masih terdengar isak tangisnya sesekali.
"Alif kenapa? Kok sekarang Alif selalu ganggu teman-teman? Apa karena Alif udah ga sayang lagi sama teman-teman dan bu guru?" Tanyaku padanya sambil merengkuh dan memangkunya.
"Alif sayang sama bu gulu, Alif juga sayang sama teman-teman, tapi Alif benci sama mama papa! Abisnya Alif ga pelnah jalan-jalan, mama papa kelja telus...hiks...hiks...".
Mendengar jawabannya aku tiba-tiba merasa sangat bersalah hingga semakin erat ku memeluknya. "Kalau begitu harusnya Alif bilang jujur sama mama papa kalau Alif mau jalan-jalan sama mereka, ibu yakin mama papa pasti mengerti karena mereka sayang sama Alif. Tapi Alif harus mengerti, mama papa kerja untuk Alif, coba kalau mama papa ga kerja Alif ga bisa sekolah, ga bisa beli mainan atau jajan, jadi Alif harus bersyukur dan bersabar...gimana, alif ngerti kan yang ibu bilang?". "Iya bu gulu, Alif ngelti tapi maafin Alif ya bu?" Katanya sambil memainkan jemariku. "Iya, maafin ibu juga ya? Dan Alif juga mau kan minta maaf sama teman-teman?". Anggukan dan senyumannya sudah cukup membuatku senang bahwa caraku menyelesaikan kasus berhasil hanya tinggal mencatatnya dalam buku kasus.
Itulah salah satu cerita suka dukaku di TK, semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi calon ibu guru dan calon ibu rumah tangga.
Dulu, aku sempat mengajar di TK selama 7 tahun. Sebenarnya aku kurang suka berprofesi sebagai guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa terutama guru TK tapi demi mewujudkan cita-cita orang tua jadilah aku seorang guru.
Setiap pilihan pasti ada resikonya begitu juga pilihanku untuk mengikuti nasehat orang tua. Banyak sekali suka dan duka yang aku alami selama jadi guru mulai dari mengurus anak-anak selama di sekolah hingga ke cara pengajarannya.
Sukanya di TK adalah pada saat tanggal 1 tiap bulannya (baca : gajian) dan pada saat ada acara rekreasi jalan-jalan ke tempat wisata serta di saat-saat musim ulang tahun karena mereka pasti mengadakan acara ulang tahun di sekolah dan sudah pasti sebagai ibu gurunya mendapat jatah makanan lebih besar di banding guru-guru lainnya tapi di saat menjalani hari-hari sebagai ibu guru benar-benar menguras tenaga dan pikiran untuk menghadapi 15 anak kecil yang notabene anak orang lain dengan karakter dan tingkah polah yang sangat kompleks, bayangkan! Satu anak saja memiliki bermacam-macam "keajaiban" bagaimana jika 15 anak di gabung jadi satu kelas?
Cara mendidik anak TK tidak sama dengan SD atau SMP, mendidik mereka harus memiliki kesabaran dan waktu extra serta taktik yang tepat pada sasaran seperti salah satu kejadian yang paling membekas hingga saat ini.
Namanya Alif, dia anak usia 5 tahun dengan sifat yang paling "Ajaib" di antara teman-temannya. Dia seperti tidak punya rasa lelah sedetikpun, ada saja ulahnya yang buat kami para guru terutama aku sebagai wali kelasnya kerap mengelus dada.
Waktu itu aku sudah membuat program untuk mengajarkan sifat air pada anak-anak dengan metode ala anak-anak atau bermain air di halaman kelas, tapi bukannya ikut "bermain air"
Alif malah berlari keluar halaman, mengganggu teman-temannya bahkan ada yang di buat menangis olehnya karena di siram hingga basah kuyup.
Awalnya aku masih bisa bersabar tapi karena ulahnya yang membuat salah satu temannya basah kuyup itu membuatku spontan menarik dia ke dalam ruangan yang sengaja aku gunakan untuk bicara 4 mata dengan anak yang memberi kasus padaku.
Di dalam ruangan Alif semakin menjadi-jadi, mungkin karena takut di marahi dia menangis keras sekali sambil melempar barang-barang yang ada di dekatnya hingga ada yang pecah. Walau begitu ku putuskan untuk mendiamkan dulu dia hingga tenang baru aku akan mengajaknya bicara dan Alhamdulillah akhirnya dia diam kelelahan meskipun masih terdengar isak tangisnya sesekali.
"Alif kenapa? Kok sekarang Alif selalu ganggu teman-teman? Apa karena Alif udah ga sayang lagi sama teman-teman dan bu guru?" Tanyaku padanya sambil merengkuh dan memangkunya.
"Alif sayang sama bu gulu, Alif juga sayang sama teman-teman, tapi Alif benci sama mama papa! Abisnya Alif ga pelnah jalan-jalan, mama papa kelja telus...hiks...hiks...".
Mendengar jawabannya aku tiba-tiba merasa sangat bersalah hingga semakin erat ku memeluknya. "Kalau begitu harusnya Alif bilang jujur sama mama papa kalau Alif mau jalan-jalan sama mereka, ibu yakin mama papa pasti mengerti karena mereka sayang sama Alif. Tapi Alif harus mengerti, mama papa kerja untuk Alif, coba kalau mama papa ga kerja Alif ga bisa sekolah, ga bisa beli mainan atau jajan, jadi Alif harus bersyukur dan bersabar...gimana, alif ngerti kan yang ibu bilang?". "Iya bu gulu, Alif ngelti tapi maafin Alif ya bu?" Katanya sambil memainkan jemariku. "Iya, maafin ibu juga ya? Dan Alif juga mau kan minta maaf sama teman-teman?". Anggukan dan senyumannya sudah cukup membuatku senang bahwa caraku menyelesaikan kasus berhasil hanya tinggal mencatatnya dalam buku kasus.
Itulah salah satu cerita suka dukaku di TK, semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi calon ibu guru dan calon ibu rumah tangga.
Friday, September 19, 2014
Judul. : LORONG WAKTU.
Karya : Eros rostiana
Tgl. : 19 Sept 2014
Bukit-bukit tinggi, hamparan laut luas, rimbunnya pepohonan, dan sampan kecil yang sering mereka naiki menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka berdua.
Nida dan Jeany, dua anak yang bersahabat sejak lama sedang asyik memperhatikan ikan-ikan yang berenang ketika tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh dari tebing.
"Byuurrr!" "Jean, kamu dengar ga? Ada yang jatuh dari tebing! Kita lihat yuk?" Ajak Nida pada sahabatnya. Mereka langsung menarik sampan dan menaikinya, mencari tahu apa gerangan yang jatuh ke laut.
Hasil pencarian di atas laut nihil. Karena rasa penasaran yang tinggi mereka menepi dan langsung berlari melewati gua dekat laut kemudian naik ke atas bukit. Namun setelah sampai di atas bukit mereka tidak menemukan apapun.
"Ga ada apa-apa da, kita pulang aja yuk?" Ajak Jeany karena merasa tidak berhasil menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk mengenai suara tadi.
Baru selangkah mereka berjalan, tiba-tiba mata Jeany melihat sesuatu dari balik semak-semak. "Da, apaan tuh?" Tunjuk Jeany. Setelah mereka dekati, ternyata yang mereka lihat adalah sebuah payung dan buku bertuliskan "my last diary" di sampul depan. "Aneh, punya siapa ya ini? Bukunya masih bagus, tapi gak bisa dibuka" ucap Jeany sambil membulak-balik buku tersebut. "Buka aja Jean, siapa tahu kita bisa kembalikan ke yang punya kalau ada biodatanya di dalam buku," jawab Nida.
Baru saja mau mereka buka, terdengar suara bunda Jeany berteriak menyuruh mereka pulang "Jeany ...! Lekas pulang, hari sudah semakin senja!" "Iya Bunda, sebentar" teriak Jeany dan mereka pun pulang, meninggalkan benda-benda misterius yang mereka temukan.
"Maafkan aku sobat, aku sudah tidak kuat. Beban ini semakin berat ku rasa sejak tiada lagi orang tua. Usah kau menangisi kepergianku ini, kenanglah aku berdasarkan kenangan kebahagiaan yang telah kita alami bersama di sini, di tempat ini. Terima kasih atas kenangan yang telah kau berikan padaku, ku titipkan buku ini dan bacalah jika kau merindukanku."
Setelah menulis, si gadis manis berjalan menuju tepi bukit. Dia tersenyum bahagia karena akhirnya semua penderitaannya akan hilang. Dan dia pun terbang ke bawah. "Byuurrr!"
"Nidaaaaa ...! Jangaaannn!" Teriakan Jeany terlambat. Dengan terburu-buru dia angkat gaunnya dan segera berlari ke tepi bukit, tempat di mana Nida berdiri barusan. "Nidaaa ...! Kenapa kau nekat begini? Kenapa!" Jerit Jeany meratapi kepergian sahabatnya, Nida.
Namun ratapan hanyalah tinggal ratapan. Jeany berjalan dengan limbung hendak pulang ketika dia melihat buku yang Nida tinggalkan untuk dia dan membacanya. Baru saja dia hendak mengambil payung dan buku milik Nida ada suara langkah terburu-buru dan dia bersembunyi di balik semak-semak.
"Aneh, punya siapa ya ini? Bukunya masih bagus, tapi gak bisa dibuka" ucap Jeany sambil membulak-balik buku tersebut. "Buka aja Jean, siapa tahu kita bisa kembalikan ke yang punya kalau ada biodatanya di dalam buku."
Jeany mendekap mulutnya, berusaha agar suaranya tidak terdengar melihat semua itu. Kini dia tahu, suara apa yang dia dengar waktu kecil bersama Nida sahabatnya. "Ini tidak mungkin! Ini pasti mimpi!" Ucapnya dalam hati. Dia mencubit lengannya, dan terasa sakit. "Ini bukan mimpi!" Teriaknya, masih dalam hati.
Ketika dia mendengar suara bundanya berteriak menyuruh pulang dan melihat dia berlari menjauh, Jeany keluar dari persembunyiannya dan mengambil buku serta payung milik Nida yang bertuliskan namanya dan berjalan menuju tepi laut tempat dulu dia bermain dan bercanda bersama Nida.
Dia berdiri di tepi laut dengan memakai payung sahabatnya. "Lihat Nida ... Lihatlah surga kita ini. Sampannya masih ada, lautnya masih indah, bukitnya masih berdiri dengan kokoh Da, yang tidak ada kini hanya pohon-pohon yang mengering tanpa daun dan kamu, iya Da ... Pohon-pohon ini seperti aku tanpamu, kering tanpa dedaunan." Gumam Jeany pelan seolah-olah sedang berbincang dengan sahabatnya.
Karya Re16 0210714
Karya : Eros rostiana
Tgl. : 19 Sept 2014
Bukit-bukit tinggi, hamparan laut luas, rimbunnya pepohonan, dan sampan kecil yang sering mereka naiki menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka berdua.
Nida dan Jeany, dua anak yang bersahabat sejak lama sedang asyik memperhatikan ikan-ikan yang berenang ketika tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh dari tebing.
"Byuurrr!" "Jean, kamu dengar ga? Ada yang jatuh dari tebing! Kita lihat yuk?" Ajak Nida pada sahabatnya. Mereka langsung menarik sampan dan menaikinya, mencari tahu apa gerangan yang jatuh ke laut.
Hasil pencarian di atas laut nihil. Karena rasa penasaran yang tinggi mereka menepi dan langsung berlari melewati gua dekat laut kemudian naik ke atas bukit. Namun setelah sampai di atas bukit mereka tidak menemukan apapun.
"Ga ada apa-apa da, kita pulang aja yuk?" Ajak Jeany karena merasa tidak berhasil menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk mengenai suara tadi.
Baru selangkah mereka berjalan, tiba-tiba mata Jeany melihat sesuatu dari balik semak-semak. "Da, apaan tuh?" Tunjuk Jeany. Setelah mereka dekati, ternyata yang mereka lihat adalah sebuah payung dan buku bertuliskan "my last diary" di sampul depan. "Aneh, punya siapa ya ini? Bukunya masih bagus, tapi gak bisa dibuka" ucap Jeany sambil membulak-balik buku tersebut. "Buka aja Jean, siapa tahu kita bisa kembalikan ke yang punya kalau ada biodatanya di dalam buku," jawab Nida.
Baru saja mau mereka buka, terdengar suara bunda Jeany berteriak menyuruh mereka pulang "Jeany ...! Lekas pulang, hari sudah semakin senja!" "Iya Bunda, sebentar" teriak Jeany dan mereka pun pulang, meninggalkan benda-benda misterius yang mereka temukan.
"Maafkan aku sobat, aku sudah tidak kuat. Beban ini semakin berat ku rasa sejak tiada lagi orang tua. Usah kau menangisi kepergianku ini, kenanglah aku berdasarkan kenangan kebahagiaan yang telah kita alami bersama di sini, di tempat ini. Terima kasih atas kenangan yang telah kau berikan padaku, ku titipkan buku ini dan bacalah jika kau merindukanku."
Setelah menulis, si gadis manis berjalan menuju tepi bukit. Dia tersenyum bahagia karena akhirnya semua penderitaannya akan hilang. Dan dia pun terbang ke bawah. "Byuurrr!"
"Nidaaaaa ...! Jangaaannn!" Teriakan Jeany terlambat. Dengan terburu-buru dia angkat gaunnya dan segera berlari ke tepi bukit, tempat di mana Nida berdiri barusan. "Nidaaa ...! Kenapa kau nekat begini? Kenapa!" Jerit Jeany meratapi kepergian sahabatnya, Nida.
Namun ratapan hanyalah tinggal ratapan. Jeany berjalan dengan limbung hendak pulang ketika dia melihat buku yang Nida tinggalkan untuk dia dan membacanya. Baru saja dia hendak mengambil payung dan buku milik Nida ada suara langkah terburu-buru dan dia bersembunyi di balik semak-semak.
"Aneh, punya siapa ya ini? Bukunya masih bagus, tapi gak bisa dibuka" ucap Jeany sambil membulak-balik buku tersebut. "Buka aja Jean, siapa tahu kita bisa kembalikan ke yang punya kalau ada biodatanya di dalam buku."
Jeany mendekap mulutnya, berusaha agar suaranya tidak terdengar melihat semua itu. Kini dia tahu, suara apa yang dia dengar waktu kecil bersama Nida sahabatnya. "Ini tidak mungkin! Ini pasti mimpi!" Ucapnya dalam hati. Dia mencubit lengannya, dan terasa sakit. "Ini bukan mimpi!" Teriaknya, masih dalam hati.
Ketika dia mendengar suara bundanya berteriak menyuruh pulang dan melihat dia berlari menjauh, Jeany keluar dari persembunyiannya dan mengambil buku serta payung milik Nida yang bertuliskan namanya dan berjalan menuju tepi laut tempat dulu dia bermain dan bercanda bersama Nida.
Dia berdiri di tepi laut dengan memakai payung sahabatnya. "Lihat Nida ... Lihatlah surga kita ini. Sampannya masih ada, lautnya masih indah, bukitnya masih berdiri dengan kokoh Da, yang tidak ada kini hanya pohon-pohon yang mengering tanpa daun dan kamu, iya Da ... Pohon-pohon ini seperti aku tanpamu, kering tanpa dedaunan." Gumam Jeany pelan seolah-olah sedang berbincang dengan sahabatnya.
Karya Re16 0210714
#SANG PENANTANG KEHIDUPAN.
"Ayaahh ...! jangan tinggalin Eko yah!" ratapan Eko membuat semua yang datang jadi terharu. Bagaimana tidak, Pak Parmin harus meninggalkan seorang anak sendirian di dunia, tanpa ada ibu atau saudara.
Eko, sebuah nama sederhana sesederhana orangnya. Sejak di tinggal pergi ayah dan ibunya, dia hidup sebatang kara. Jangankan untuk sekolah untuk makan pun dia harus bekerja keras, membanting tulang memeras keringat sebagai kuli bangunan di usianya yang baru 7 tahun.
"Pak, saya ikut kerja di sini ya? saya bisa ko bantu-bantu angkat batu bata, ngaduk semen, dan lain-lain," ujarnya waktu itu ke mandor bangunan. Awalnya Pak Joko ragu menerimanya karena dia masih kecil, tapi karena Eko memaksanya maka jadilah dia bekerja di tempat Pak Joko.
Pak Joko kagum dengan semangat Eko. Dia bekerja tanpa ada keluhan di bibirnya, dia seperti menantang kehidupan yang tidak berpihak padanya. Di usia yang masih kecil dia tidak tahu apa itu bermain, belajar, ataupun jajan.
Pada suatu hari dia memanggil Eko ke ruangannya dan bertanya "Ko, kamu masih mau sekolah ga?"
"Mau Pak, tapi bagaimana bisa saya sekolah kalau buat makan aja susah." Jawab Eko.
"Kalau begitu, sekarang kamu ikut Bapak ke rumah. Bapak belum punya anak, jadi ibu suka kesepian sendirian di rumah. Kamu mau ga jadi anak bapak? nanti kamu Bapak sekolahkan biar cita-citamu tercapai. Kamu mau kan jadi anak Bapak?"
Perkataan Pak Joko membuat Eko kehilangan kata-kata. Sesaat dia hanya diam terpaku dan hanya mengeluarkan air mata. Dia tidak menyangka, masih ada orang baik dan peduli padanya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mengangguk. Pak Joko pun hanya tersenyum dan lalu memeluknya.
#karya Re tiapian17 080614
"Ayaahh ...! jangan tinggalin Eko yah!" ratapan Eko membuat semua yang datang jadi terharu. Bagaimana tidak, Pak Parmin harus meninggalkan seorang anak sendirian di dunia, tanpa ada ibu atau saudara.
Eko, sebuah nama sederhana sesederhana orangnya. Sejak di tinggal pergi ayah dan ibunya, dia hidup sebatang kara. Jangankan untuk sekolah untuk makan pun dia harus bekerja keras, membanting tulang memeras keringat sebagai kuli bangunan di usianya yang baru 7 tahun.
"Pak, saya ikut kerja di sini ya? saya bisa ko bantu-bantu angkat batu bata, ngaduk semen, dan lain-lain," ujarnya waktu itu ke mandor bangunan. Awalnya Pak Joko ragu menerimanya karena dia masih kecil, tapi karena Eko memaksanya maka jadilah dia bekerja di tempat Pak Joko.
Pak Joko kagum dengan semangat Eko. Dia bekerja tanpa ada keluhan di bibirnya, dia seperti menantang kehidupan yang tidak berpihak padanya. Di usia yang masih kecil dia tidak tahu apa itu bermain, belajar, ataupun jajan.
Pada suatu hari dia memanggil Eko ke ruangannya dan bertanya "Ko, kamu masih mau sekolah ga?"
"Mau Pak, tapi bagaimana bisa saya sekolah kalau buat makan aja susah." Jawab Eko.
"Kalau begitu, sekarang kamu ikut Bapak ke rumah. Bapak belum punya anak, jadi ibu suka kesepian sendirian di rumah. Kamu mau ga jadi anak bapak? nanti kamu Bapak sekolahkan biar cita-citamu tercapai. Kamu mau kan jadi anak Bapak?"
Perkataan Pak Joko membuat Eko kehilangan kata-kata. Sesaat dia hanya diam terpaku dan hanya mengeluarkan air mata. Dia tidak menyangka, masih ada orang baik dan peduli padanya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mengangguk. Pak Joko pun hanya tersenyum dan lalu memeluknya.
#karya Re tiapian17 080614
#KBMSeason2
#KBMMania
Dannisa
Karya : Re Tiapian.
Di satu pagi yang cerah, seperti biasa Dannisa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Kebetulan jarak antara rumah dengan sekolahnya lumayan dekat.
Namun ada yang aneh pagi ini. Tidak seperti biasanya, selama di perjalanan tidak ada satupun tetangga yang menyapanya, bahkan teman-temannya di sekolah pun seperti tidak melihatnya.
"Aneh, kenapa semuanya tidak menghiraukanku hari ini? ah ya! Hari ini ulang tahunku! hehehe, ternyata mereka sengaja tidak menghiraukanku untuk memberi kejutan." Pikir Dannisa.
Ketika di dalam kelas, "anak-anak, tenang semua! Hari ini kalian mendapat teman baru, namanya Ayla. Nah Ayla, silakan kamu cari kursi kosong." Ujar bu guru Yuni pada Ayla dan Ayla pun langsung berjalan ke arah Dannisa dan duduk di sebelahnya.
"Hai, kenalin aku Dannisa." Tanpa ba-bi-bu Dannisa langsung memperkenalkan diri, dan Ayla hanya tersenyum tipis. Teman-teman seperti biasa, jika ada murid baru mereka langsung berbisik-bisik ramai membicarakan si anak baru.
Sudah dua hari ini setiap pulang sekolah, Dannisa berjalan berdua dengan Ayla. Mereka kemana-mana selalu berdua, Dannisa sudah tidak peduli lagi saat teman-temannya masih tidak menghiraukannya. Dia senang berteman dengan Ayla, walaupun pendiam tapi Ayla selalu mau mendengarkan ceritanya.
Di hari ketiga mereka pulang sekolah bersama ketika hampir sampai di rumahnya, "La main yuk ke rumahku? tuh udah kelihatan dari sini, yang cat hijau itu," ajak Dannisa.
Tapi alih-alih menanggapi ajakan Dannisa, Ayla langsung menarik tangan Dannisa dan dengan setengah berlari dia berkata, "sekarang rumah kamu bukan di sana lagi Dan!" "Apa maksud kamu La?! rumahku cuma satu!" teriak Dannisa keheranan.
"Ayla stop ..., berhenti!" teriak Dannisa ketika menyadari kemana Ayla membawanya. "Sekarang rumahmu di sini Dan ... beristirahatlah dengan tenang, mama papamu sudah mengikhlaskan kepergianmu ko jadi kamu sudah bisa tenang sekarang. Percayalah Dan, mereka pasti baik-baik saja" ucap Ayla panjang lebar. Dannisa hanya bisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Ayla.
"Selamat jalan teman, terima kasih untuk tiga hari ini." Ayla berkata dalam hati sambil menaburkan bunga-bungaan di atas pusara teman barunya dan meletakkan koran dua hari yang lalu dengan headline berbunyi "TELAH DI TEMUKAN! MAYAT SEORANG GADIS DIPERKIRAKAN BERUSIA 17 TAHUN DI PINGGIRAN SUNGAI."
#Tamat.
#KBMMania
Dannisa
Karya : Re Tiapian.
Di satu pagi yang cerah, seperti biasa Dannisa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Kebetulan jarak antara rumah dengan sekolahnya lumayan dekat.
Namun ada yang aneh pagi ini. Tidak seperti biasanya, selama di perjalanan tidak ada satupun tetangga yang menyapanya, bahkan teman-temannya di sekolah pun seperti tidak melihatnya.
"Aneh, kenapa semuanya tidak menghiraukanku hari ini? ah ya! Hari ini ulang tahunku! hehehe, ternyata mereka sengaja tidak menghiraukanku untuk memberi kejutan." Pikir Dannisa.
Ketika di dalam kelas, "anak-anak, tenang semua! Hari ini kalian mendapat teman baru, namanya Ayla. Nah Ayla, silakan kamu cari kursi kosong." Ujar bu guru Yuni pada Ayla dan Ayla pun langsung berjalan ke arah Dannisa dan duduk di sebelahnya.
"Hai, kenalin aku Dannisa." Tanpa ba-bi-bu Dannisa langsung memperkenalkan diri, dan Ayla hanya tersenyum tipis. Teman-teman seperti biasa, jika ada murid baru mereka langsung berbisik-bisik ramai membicarakan si anak baru.
Sudah dua hari ini setiap pulang sekolah, Dannisa berjalan berdua dengan Ayla. Mereka kemana-mana selalu berdua, Dannisa sudah tidak peduli lagi saat teman-temannya masih tidak menghiraukannya. Dia senang berteman dengan Ayla, walaupun pendiam tapi Ayla selalu mau mendengarkan ceritanya.
Di hari ketiga mereka pulang sekolah bersama ketika hampir sampai di rumahnya, "La main yuk ke rumahku? tuh udah kelihatan dari sini, yang cat hijau itu," ajak Dannisa.
Tapi alih-alih menanggapi ajakan Dannisa, Ayla langsung menarik tangan Dannisa dan dengan setengah berlari dia berkata, "sekarang rumah kamu bukan di sana lagi Dan!" "Apa maksud kamu La?! rumahku cuma satu!" teriak Dannisa keheranan.
"Ayla stop ..., berhenti!" teriak Dannisa ketika menyadari kemana Ayla membawanya. "Sekarang rumahmu di sini Dan ... beristirahatlah dengan tenang, mama papamu sudah mengikhlaskan kepergianmu ko jadi kamu sudah bisa tenang sekarang. Percayalah Dan, mereka pasti baik-baik saja" ucap Ayla panjang lebar. Dannisa hanya bisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Ayla.
"Selamat jalan teman, terima kasih untuk tiga hari ini." Ayla berkata dalam hati sambil menaburkan bunga-bungaan di atas pusara teman barunya dan meletakkan koran dua hari yang lalu dengan headline berbunyi "TELAH DI TEMUKAN! MAYAT SEORANG GADIS DIPERKIRAKAN BERUSIA 17 TAHUN DI PINGGIRAN SUNGAI."
#Tamat.
JUDUL : Kutukan Neku.
KARYA : Eros rostiana
TGL : 20 September 2014
Dulu, di bumi tidak ada binatang, yang ada hanya anak-anak dan orang tua.
Di satu tempat ada dua anak yang bersahabat, Cici dan Meme. Setiap hari mereka selalu merusak tanaman dan mengganggu orang lain.
Pada suatu hari, Cici dan Meme bermain terlalu jauh ke dalam hutan. Mereka mencabuti pohon-pohon yang baru tumbuh, menarik dahan pohon hingga patah dan mencoret-coret bebatuan yang ada di dalam hutan.
Ketika mereka sedang merontokkan daun-daun di satu pohon, tiba-tiba datang seorang nenek yang menyeramkan! Rambutnya putih panjang menutupi punggung, wajahnya keriput, dan dia berjalan dengan kedua tangan berada di depan kakinya.
Si nenek berteriak, "hei kalian! kenapa kalian merusak rumahku?! hentikan!"
Tapi bukannya takut, Cici dan Meme mengejek si nenek sambil tertawa, "hahahaha, ada Nenek-nenek kayak bayi, jalannya merangkak! hahahahaha ... hei Nek, siapa nama Nenek?! kenapa Nenek sangat jelek? hahahahahahahah," tanya Cici pada nenek itu sambil tertawa.
"Dasar anak-anak nakal! apa kalian tidak tahu siapa aku? aku adalah Neku! penyihir di hutan ini!" jawab nenek tua.
Mendengar jawaban nenek tua itu barulah mereka ketakutan dan terdiam. Wajah mereka pucat pasi dan mereka beringsut menjauhi nenek Neku.
Nenek Neku mendekati mereka dan berteriak, "karena kalian sudah merusak hutan ini, ku kutuk kalian menjadi sepertiku, dan tidak bisa bicara selamanya!"
Dan tiba-tiba ... cetarrr! satu cahaya keluar dari tangan nenek Neku ke arah Cici dan Meme, dan mereka berubah! tubuh mereka menjadi berbulu, dan mereka tidak bisa bicara walaupun kedua kaki mereka masih bisa berjalan seperti biasa.
Sejak itu Cici dan Meme tinggal di hutan di dalam pohon besar. Setiap hari mereka bergantian mencari makan. Seperti hari ini, yang mencari makan adalah Cici, maka dia yang menyuapi Meme dari luar pohon sambil sesekali melihat sekitar karena takut nenek Neku datang.
Re_200914
KARYA : Eros rostiana
TGL : 20 September 2014
Dulu, di bumi tidak ada binatang, yang ada hanya anak-anak dan orang tua.
Di satu tempat ada dua anak yang bersahabat, Cici dan Meme. Setiap hari mereka selalu merusak tanaman dan mengganggu orang lain.
Pada suatu hari, Cici dan Meme bermain terlalu jauh ke dalam hutan. Mereka mencabuti pohon-pohon yang baru tumbuh, menarik dahan pohon hingga patah dan mencoret-coret bebatuan yang ada di dalam hutan.
Ketika mereka sedang merontokkan daun-daun di satu pohon, tiba-tiba datang seorang nenek yang menyeramkan! Rambutnya putih panjang menutupi punggung, wajahnya keriput, dan dia berjalan dengan kedua tangan berada di depan kakinya.
Si nenek berteriak, "hei kalian! kenapa kalian merusak rumahku?! hentikan!"
Tapi bukannya takut, Cici dan Meme mengejek si nenek sambil tertawa, "hahahaha, ada Nenek-nenek kayak bayi, jalannya merangkak! hahahahaha ... hei Nek, siapa nama Nenek?! kenapa Nenek sangat jelek? hahahahahahahah," tanya Cici pada nenek itu sambil tertawa.
"Dasar anak-anak nakal! apa kalian tidak tahu siapa aku? aku adalah Neku! penyihir di hutan ini!" jawab nenek tua.
Mendengar jawaban nenek tua itu barulah mereka ketakutan dan terdiam. Wajah mereka pucat pasi dan mereka beringsut menjauhi nenek Neku.
Nenek Neku mendekati mereka dan berteriak, "karena kalian sudah merusak hutan ini, ku kutuk kalian menjadi sepertiku, dan tidak bisa bicara selamanya!"
Dan tiba-tiba ... cetarrr! satu cahaya keluar dari tangan nenek Neku ke arah Cici dan Meme, dan mereka berubah! tubuh mereka menjadi berbulu, dan mereka tidak bisa bicara walaupun kedua kaki mereka masih bisa berjalan seperti biasa.
Sejak itu Cici dan Meme tinggal di hutan di dalam pohon besar. Setiap hari mereka bergantian mencari makan. Seperti hari ini, yang mencari makan adalah Cici, maka dia yang menyuapi Meme dari luar pohon sambil sesekali melihat sekitar karena takut nenek Neku datang.
Re_200914
Thursday, September 18, 2014
Cerpen01
JUDUL : SALAH SANGKA
KARYA : EROS ROSTIANA
Pagi hari di warung bu Bejo, sudah ramai oleh ibu-ibu yang niat awalnya belanja sayuran tapi jadi bergosip ria.
Apalagi yang digosipkan kalau bukan topic of the week yaitu ibu Zatta. "Ssttt ... Bu Bejo tahu enggak? masa sih Bu Zatta tetap mau ngadain ulang tahunnya di rumah loh, kemarin sore saya lihat keluarganya lagi sibuk menghias rumah pakai balon lengkap sama pita-pitanya. Ada red carpetnya segala lagi! iihh amit-amit deh itu nenek-nenek tua, ga sadar diri banget udah bau tanah masih mau di rayain segala!"
Bu Wina terus saja mencerocos tanpa jeda, seperti reporter yang sedang membacakan berita dan ibu-ibu lain serius mendengarkan sambil ber"ooohh" ria.
Sedang asyiknya bergosip, tiba-tiba yang digosipkan datang dan berkata, "Ibu-ibu semua, datang ya di acara ulang tahun saya yang ke 55 besok jam tiga sore di rumah, dress codenya kebaya loh Ibu-ibu." Bu Zatta berkata dengan senyum dikulum di depan ibu-ibu rumpi itu.
Dan akhirnya waktu yang dinanti pun tiba, semua tamu undangan sudah tiba terutama ibu-ibu arisan yang ingin tahu seperti apa acara yang diadakan oleh ibu Zatta dan keluarga.
"Para hadirin sekalian, harap tenang karena acara akan segera kita mulai." Pak Sandy suami ibu Zatta bicara dan para tamu undangan terdiam.
Kemudian bu Zatta giliran bicara melalui microphone. "Ibu-ibu semua, terima kasih atas kehadirannya di acara ulang tahun ini. Sebenarnya saya sadar, di usia yang sudah udzur tidak pantas lagi berulang tahun, tapi karena mengingat sekarang bertepatan dengan hari kemerdekaan maka saya ingin memperingatinya dengan bersyukur. Jadi Ibu-ibu, mari kita berdoa bersama, dan setelah itu kita akan bergembira dengan penampilan dari anak-anak panti asuhan Al-hikmah yang akan memperagakan berbagai macam busana adat dari berbagai propinsi. Selamat menikmati."
Tepuk tangan membahana. Setiap anak-anak selesai memperagakan busana adat yang mereka pakai, semua tertawa bahagia. Bu Bejo berbisik kepada bu Wina.
"Ssstt Bu Wina, ternyata kita salah mengira ya Bu? kita pikir bu Zatta nenek-nenek enggak tahu diri tapi ternyata dia wanita berhati mulia. Lihat saja semua ini dia yang mengatur, sampai ngadain acara untuk anak-anak yatim piatu segala lagi."
Bu Wina hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dia terharu karena ternyata masih ada orang yang berhati emas seperti bu Zatta. Bu Wina juga dalam hati menyesal sudah terprovokasi ikut membicarakan yang tidak-tidak pada bu Zatta.
Re_04
KARYA : EROS ROSTIANA
Pagi hari di warung bu Bejo, sudah ramai oleh ibu-ibu yang niat awalnya belanja sayuran tapi jadi bergosip ria.
Apalagi yang digosipkan kalau bukan topic of the week yaitu ibu Zatta. "Ssttt ... Bu Bejo tahu enggak? masa sih Bu Zatta tetap mau ngadain ulang tahunnya di rumah loh, kemarin sore saya lihat keluarganya lagi sibuk menghias rumah pakai balon lengkap sama pita-pitanya. Ada red carpetnya segala lagi! iihh amit-amit deh itu nenek-nenek tua, ga sadar diri banget udah bau tanah masih mau di rayain segala!"
Bu Wina terus saja mencerocos tanpa jeda, seperti reporter yang sedang membacakan berita dan ibu-ibu lain serius mendengarkan sambil ber"ooohh" ria.
Sedang asyiknya bergosip, tiba-tiba yang digosipkan datang dan berkata, "Ibu-ibu semua, datang ya di acara ulang tahun saya yang ke 55 besok jam tiga sore di rumah, dress codenya kebaya loh Ibu-ibu." Bu Zatta berkata dengan senyum dikulum di depan ibu-ibu rumpi itu.
Dan akhirnya waktu yang dinanti pun tiba, semua tamu undangan sudah tiba terutama ibu-ibu arisan yang ingin tahu seperti apa acara yang diadakan oleh ibu Zatta dan keluarga.
"Para hadirin sekalian, harap tenang karena acara akan segera kita mulai." Pak Sandy suami ibu Zatta bicara dan para tamu undangan terdiam.
Kemudian bu Zatta giliran bicara melalui microphone. "Ibu-ibu semua, terima kasih atas kehadirannya di acara ulang tahun ini. Sebenarnya saya sadar, di usia yang sudah udzur tidak pantas lagi berulang tahun, tapi karena mengingat sekarang bertepatan dengan hari kemerdekaan maka saya ingin memperingatinya dengan bersyukur. Jadi Ibu-ibu, mari kita berdoa bersama, dan setelah itu kita akan bergembira dengan penampilan dari anak-anak panti asuhan Al-hikmah yang akan memperagakan berbagai macam busana adat dari berbagai propinsi. Selamat menikmati."
Tepuk tangan membahana. Setiap anak-anak selesai memperagakan busana adat yang mereka pakai, semua tertawa bahagia. Bu Bejo berbisik kepada bu Wina.
"Ssstt Bu Wina, ternyata kita salah mengira ya Bu? kita pikir bu Zatta nenek-nenek enggak tahu diri tapi ternyata dia wanita berhati mulia. Lihat saja semua ini dia yang mengatur, sampai ngadain acara untuk anak-anak yatim piatu segala lagi."
Bu Wina hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dia terharu karena ternyata masih ada orang yang berhati emas seperti bu Zatta. Bu Wina juga dalam hati menyesal sudah terprovokasi ikut membicarakan yang tidak-tidak pada bu Zatta.
Re_04
Cerpen
JUDUL : TARIAN ANGSA BURUK RUPA
KARYA : EROS ROSTIANA
Dahulu kala ada seekor angsa yang sangat suka menari. Tiada hari tanpa menari, hingga suatu hari dia menemukan satu pin bbm master menari.
Tidak menunggu lama, si angsa langsung menambahkan sang master ke dalam kontak pertemanan bbm, dan ternyata sang master mengkonfirmasinya hingga bertambahlah bahagianya.
Tanpa pikir panjang si angsa langsung mengajak sang master untuk berbincang-bincang sebagai awal pertemanan.
"Assalamualaikum Master, bolehkah saya meminta Master untuk mengajarkan saya menari? nanti saya akan kirimkan video-video demo menari saya ke Master."
"Boleh saja kok," jawab sang master hingga membuat bertambah bahagianya si angsa buruk rupa, dan semakin lancarlah perbincangan mereka sore itu.
Namun seperti kata pepatah "ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai," seperti itulah yang dialami si angsa buruk rupa.
Saat sedang asyik mengobrol dengan sang master tiba-tiba hpnya rusak, sehingga tak sadar si angsa menulis teriakan "aaaarrrrrgggghhhh!" dan mengirimnya ke sang master.
Si angsa buruk rupa pun langsung meminta maaf kepada sang master "maaf Master, itu tadi saya sedang kesal karena hp error."
Tapi ternyata sang master mendelconnya hingga membuat si angsa sedih bukan kepalang. Karena kesedihannya yang tak kunjung hilang, si angsa tanpa sadar menari, menari, dan terus menari hingga kelelahan dan akhirnya si angsa buruk rupapun kemudian ... mati.
Re_03
KARYA : EROS ROSTIANA
Dahulu kala ada seekor angsa yang sangat suka menari. Tiada hari tanpa menari, hingga suatu hari dia menemukan satu pin bbm master menari.
Tidak menunggu lama, si angsa langsung menambahkan sang master ke dalam kontak pertemanan bbm, dan ternyata sang master mengkonfirmasinya hingga bertambahlah bahagianya.
Tanpa pikir panjang si angsa langsung mengajak sang master untuk berbincang-bincang sebagai awal pertemanan.
"Assalamualaikum Master, bolehkah saya meminta Master untuk mengajarkan saya menari? nanti saya akan kirimkan video-video demo menari saya ke Master."
"Boleh saja kok," jawab sang master hingga membuat bertambah bahagianya si angsa buruk rupa, dan semakin lancarlah perbincangan mereka sore itu.
Namun seperti kata pepatah "ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai," seperti itulah yang dialami si angsa buruk rupa.
Saat sedang asyik mengobrol dengan sang master tiba-tiba hpnya rusak, sehingga tak sadar si angsa menulis teriakan "aaaarrrrrgggghhhh!" dan mengirimnya ke sang master.
Si angsa buruk rupa pun langsung meminta maaf kepada sang master "maaf Master, itu tadi saya sedang kesal karena hp error."
Tapi ternyata sang master mendelconnya hingga membuat si angsa sedih bukan kepalang. Karena kesedihannya yang tak kunjung hilang, si angsa tanpa sadar menari, menari, dan terus menari hingga kelelahan dan akhirnya si angsa buruk rupapun kemudian ... mati.
Re_03
belajar puisi2
JUDUL : HILANG ASA
KARYA : EROS ROSTIANA
Hancur karang dalam lautan
Luruh hujan basahi ngarai
Ombangambing bunga sisi tebing
Siji,
Sepi ...
Sendiri!
Bagai pungguk merindu sang wulan
Maksud hati laksana rumput liar
Apatah daya serbuk tak sampai
Asa ...
Hilang?
Entah!
Tiada arti lelehan air
Tangkai patah, karang hancur
Begitubegini, ituini
Sunyi
Sepi
Sendiri
Tanpa arti!
Kata
Tanya
Rima
Tiada guna!
Puisi
Diksi
Hati
Cari sendiri!
Usah lagi tanyatanyi
Jika hanya isi tai!
Teruji lagi si bunga di tepi
Re02
KARYA : EROS ROSTIANA
Hancur karang dalam lautan
Luruh hujan basahi ngarai
Ombangambing bunga sisi tebing
Siji,
Sepi ...
Sendiri!
Bagai pungguk merindu sang wulan
Maksud hati laksana rumput liar
Apatah daya serbuk tak sampai
Asa ...
Hilang?
Entah!
Tiada arti lelehan air
Tangkai patah, karang hancur
Begitubegini, ituini
Sunyi
Sepi
Sendiri
Tanpa arti!
Kata
Tanya
Rima
Tiada guna!
Puisi
Diksi
Hati
Cari sendiri!
Usah lagi tanyatanyi
Jika hanya isi tai!
Teruji lagi si bunga di tepi
Re02
Belajar puisi1
PENDAMTANYA
Kala tanya menggelayut pada akar
Saat sepasang bola cahaya tak sanggup berpendar
Jika waktu enggan berputar
Maka diam yang akan bicara
dan bulanpun bercahaya
Juga mimpi berkelana dalam nyata
Re|_01
Kala tanya menggelayut pada akar
Saat sepasang bola cahaya tak sanggup berpendar
Jika waktu enggan berputar
Maka diam yang akan bicara
dan bulanpun bercahaya
Juga mimpi berkelana dalam nyata
Re|_01
Subscribe to:
Comments (Atom)