Satu september 2016, mengingatkanku pada hari kesaktian pancasila yang makin hilang ditelan masa. Ada apa dengan hari kesaktian pancasila, ada apa dengan pancasila, apakah burung garuda benar-benar sudah punah, atau karena usia Indonesia yang sudah uzur, jadi pancasila kini mati kehilangan makna?
Innalillahi wainna ilaihi raajiun ....
Padahal dulu, jamannya TV masih hitam putih aku selalu menonton filmnya sampai selesai, menunggu dengan setia film itu tayang di tengah malam, rela begadang sampai subuh demi ingin melihat pahlawan-pahlawan kita berjuang membela negara hingga diculik, disiksa, dianiaya, dibunuh dengan tidak manusiawi. Aku ingat betul, selalu menangis terharu di tiap adegan dan itu selalu terus aku tonton padahal sudah sering melihatnya.
Aku bukan ingin film itu diputar lagi, tidak! tapi terlepas benar atau tidaknya kejadian itu, atau kebohongan yang dilakukan almarhum pada Indonesia selama hidupnya, aku rasa hari kesaktian pancasila semestinya tetap ada untuk terus membangkitkan semangat nasionalisme kita, agar kita selalu waspada pada bahaya-bahaya yang mengancam keutuhan Indonesia, supaya kejadian kelam di masa lalu tidak terulang lagi. Aku takut, sungguh teramat takut ormas itu kembali muncul lagi. Entah bagaimana jika itu terjadi. Apakah kita akan menyalahkan almarhum?
Benar atau tidaknya semua itu, kita tetap harus mengakui hal-hal positif yang almarhum lakukan juga tetap patut kita ingat. Lagi pula, menurutku tidak ada gunanya kita menyimpan kebencian yang amat sangat teramat dalam pada orang yang sudah meninggal. Apakah ada gunanya, membenci orang yang sudah tinggal tulang-belulang di dalam kubur?
Bisakah kita membuat lambang dan dasar negara kita kembali gagah? menurutku bisa, mungkin dengan cara seperti kita selalu memperingati hari kemerdekaan, untuk membangkitkan rasa bangga pada Indonesia di hati anak-anak kita. Seharusnya, pancasila bisa tetap sakti walau tanpa ormas terkutuk itu. pancasila tetap sakti, tanpa harus membangkitkan rasa takut kita pada kejadian kelam di masa lalu.
Bangkitlah wahai para pemuda! aku tahu kita sudah kecewa dengan semua yang telah mereka para penguasa lakukan, tapi demi Allah, tidakkah ada terbersit keinginan untuk melawan? tidakkah ada rasa untuk benar-benar memperbaiki Indonesia, mencabut hingga akarnya semua yang membuat hati terluka, robek, berdarah ini? adakah wahai kawan?
Allahu akbar, aku ingin menangis memikirkan ini, tapi apalah daya ... aku hanya sebutir debu yang tidak mungkin terlihat, aku hanya bisa berteriak sendiri dalam hati melihat semuanya, sungguh tidak ikhlas, tidak rela hati ini mengetahui kebobrokan Indonesia. Makin tua bukannya makin berjaya, tapi makin mengkerut! ingin rasanya berteriak, mengucapkan sumpah serapah, kata-kata kotor, hinaan dan caci-maki pada orang-orang yang telah melakukan ini pada Indonesia ... AAAARRRGGGGGHHHHH! TUHAN, TURUNKAN ADZAB-MU PADA MEREKA YANG TELAH DURHAKA PADA INDONESIA!
Dulu kita adalah negara berkembang, tapi kini kita negara yang telah layu, tinggal menunggu kelopaknya berguguran dan terbang dihempas angin!
Thursday, September 1, 2016
Tuesday, August 30, 2016
RESEP CILOK
Karena baru selesai membuat cilok, untuk dagang besok pagi, saya jadi ingin berbagi sedikit resep membuat cilok. Semoga bermanfaat :D
1. Bahan-bahan yang harus disiapkan :
a. Sagu 1kg
b. Terigu 1kg
c. Daun bawang seledri 2 ikat
d. Bawang putih satu siung
e. Lada halus 2 sachet
f. Masako ukuran sedang 1 sachet
g. Bumbu kacang (sinti/karang sari) 2 buah
h. Saos dan kecap
i. Daun jeruk 2 lembar
2. siapkan adonan :
Campurkan sagu dan terigu jadi satu, iris daun bawang seledri yang sudah dicuci bersih, haluskan bawang putih yang sudah dikupas dan dicuci, beri garam seujung sendok teh, lalu masukkan keduanya ke campuran sagu dan terigu tadi. Sesudah itu masukkan lada halus dan masako. Masak air hingga mendidih, setelah itu tuang ke campuran tadi sedikit demi sedikit sambil diaduk, jangan terlalu banyak supaya tidak terlalu encer adonannya tapi jangan terlalu sedikit juga air panasnya supaya adonan tidak terlalu keras. Aduk hingga menjadi adonan yang sempurna.
3. Membuat cilok
Setelah selesai membuat adonan, lalu buat lingkaran-lingkaran sebesar kelereng, atau bisa lebih besar lagi dari adonan tadi. Supaya adonan tidak lengket di tangan, balurkan sagu di kedua telapak tangan sebelum membuat bulatan ciloknya.
4. Jika bulatan cilok sudah agak banyak, masak air di panci besar setengahnya saja dan diberi sedikit minyak goreng supaya cilok tidak menempel di dasar panci. Kalau air sudah mendidih, masukkan satu persatu ciloknya hingga mengambang lalu tiriskan.
5. Kalau semua cilok sudah selesai direbus dan ditiriskan, hal terakhir yang harus dilakukan adalah mengukus ciloknya. Caranya sama seperti menanak nasi, awalnya api besar sampai air mendidih, dan kecilkan kalau sudah mendidih. tunggu hingga keluar asap dari langsengnya.
6. Sambil menunggu cilok matang, buat bumbu kacangnya, masukkan daun jeruk yang sudah dicuci ke dalam bumbu kacang yang sedang direbus. Untuk merebus bumbu kacang, cukup beri air satu gayung sampai bumbu kacang hancur.
Selamat menikmati :)
1. Bahan-bahan yang harus disiapkan :
a. Sagu 1kg
b. Terigu 1kg
c. Daun bawang seledri 2 ikat
d. Bawang putih satu siung
e. Lada halus 2 sachet
f. Masako ukuran sedang 1 sachet
g. Bumbu kacang (sinti/karang sari) 2 buah
h. Saos dan kecap
i. Daun jeruk 2 lembar
2. siapkan adonan :
Campurkan sagu dan terigu jadi satu, iris daun bawang seledri yang sudah dicuci bersih, haluskan bawang putih yang sudah dikupas dan dicuci, beri garam seujung sendok teh, lalu masukkan keduanya ke campuran sagu dan terigu tadi. Sesudah itu masukkan lada halus dan masako. Masak air hingga mendidih, setelah itu tuang ke campuran tadi sedikit demi sedikit sambil diaduk, jangan terlalu banyak supaya tidak terlalu encer adonannya tapi jangan terlalu sedikit juga air panasnya supaya adonan tidak terlalu keras. Aduk hingga menjadi adonan yang sempurna.
3. Membuat cilok
Setelah selesai membuat adonan, lalu buat lingkaran-lingkaran sebesar kelereng, atau bisa lebih besar lagi dari adonan tadi. Supaya adonan tidak lengket di tangan, balurkan sagu di kedua telapak tangan sebelum membuat bulatan ciloknya.
4. Jika bulatan cilok sudah agak banyak, masak air di panci besar setengahnya saja dan diberi sedikit minyak goreng supaya cilok tidak menempel di dasar panci. Kalau air sudah mendidih, masukkan satu persatu ciloknya hingga mengambang lalu tiriskan.
5. Kalau semua cilok sudah selesai direbus dan ditiriskan, hal terakhir yang harus dilakukan adalah mengukus ciloknya. Caranya sama seperti menanak nasi, awalnya api besar sampai air mendidih, dan kecilkan kalau sudah mendidih. tunggu hingga keluar asap dari langsengnya.
6. Sambil menunggu cilok matang, buat bumbu kacangnya, masukkan daun jeruk yang sudah dicuci ke dalam bumbu kacang yang sedang direbus. Untuk merebus bumbu kacang, cukup beri air satu gayung sampai bumbu kacang hancur.
Selamat menikmati :)
Sunday, August 28, 2016
JERA?
Tetangga samping rumah, sudah lama anaknya di penjara. Masalah penyebab dia di penjara, saya tidak tahu tapi katanya sih karena berjualan narkoba.
Bukan orangnya yang ingin saya ceritakan, tapi penjaranya. Ibu dari orang yang di penjara cerita, katanya di penjara anaknya harus bayar 50rb rupiah setiap bulannya. Di sana juga boleh memegang hp, dan lucunya penjaga penjara banyak yang berjualan makanan seperti nasi uduk, gorengan, rokok, minuman, dll.
Saya jadi berpikir, di penjara kok kayak lagi ngontrak rumah ya? Kamar sel harus bayar, makanan boleh dari luar penjara, boleh bawa hp, terus di mana efek jeranya? kalau begitu kan bisa saja tetap berjualan narkoba lewat hp, kalau di penjara boleh makan makanan dari luar, bisa jadi setelah keluar dari penjara mereka tidak kapok melakukan hal yang membuat mereka di penjara, bisa jadi mereka berpikiran "biar aja lah di penjara lagi, makanannya enak-enak kok, boleh bawa hp kok, tempatnya nyaman kok, kan udah bayar tiap bulan!"
Selama ini saya pikir, penjara itu tempat yang sungguh sangat tidak nyaman yang kedua, setelah kuburan. Saya pikir penjara seperti yang ada di film-film, makanan mau tidak mau harus ambil yang disediakan oleh pihak penjara, dan masuk sel tidak bisa pilih mau masuk sel mana dan satu sel sama siapa. ternyata tidak.
Pantas saja, nama lain penjara adalah hotel prodeo. Biar bagaimana pun kan, yang namanya hotel tetap hotel yang mau apa pun dilayani. Hadeehh ....
Pantas saja tidak ada yang takut di penjara. Pantas saja, koruptor tidak malu di penjara, karena penjara untuk rakyat jelata aja enak begitu, apalagi penjara untuk orang-orang berduit? fasilitas lengkap, benar-benar mirip hotel. Mereka di penjara seperti sedang berlibur, pergi ke suatu tempat sampai waktu yang ditentukan, hingga orang-orang yang biasa melihat mereka, tidak pernah bertemu lagi tapi nanti akan kembali bertemu.
Seperti itukah efek jera yang kita inginkan untuk pemerkosa, pembunuh, pencuri, koruptor, dll?
Bukan orangnya yang ingin saya ceritakan, tapi penjaranya. Ibu dari orang yang di penjara cerita, katanya di penjara anaknya harus bayar 50rb rupiah setiap bulannya. Di sana juga boleh memegang hp, dan lucunya penjaga penjara banyak yang berjualan makanan seperti nasi uduk, gorengan, rokok, minuman, dll.
Saya jadi berpikir, di penjara kok kayak lagi ngontrak rumah ya? Kamar sel harus bayar, makanan boleh dari luar penjara, boleh bawa hp, terus di mana efek jeranya? kalau begitu kan bisa saja tetap berjualan narkoba lewat hp, kalau di penjara boleh makan makanan dari luar, bisa jadi setelah keluar dari penjara mereka tidak kapok melakukan hal yang membuat mereka di penjara, bisa jadi mereka berpikiran "biar aja lah di penjara lagi, makanannya enak-enak kok, boleh bawa hp kok, tempatnya nyaman kok, kan udah bayar tiap bulan!"
Selama ini saya pikir, penjara itu tempat yang sungguh sangat tidak nyaman yang kedua, setelah kuburan. Saya pikir penjara seperti yang ada di film-film, makanan mau tidak mau harus ambil yang disediakan oleh pihak penjara, dan masuk sel tidak bisa pilih mau masuk sel mana dan satu sel sama siapa. ternyata tidak.
Pantas saja, nama lain penjara adalah hotel prodeo. Biar bagaimana pun kan, yang namanya hotel tetap hotel yang mau apa pun dilayani. Hadeehh ....
Pantas saja tidak ada yang takut di penjara. Pantas saja, koruptor tidak malu di penjara, karena penjara untuk rakyat jelata aja enak begitu, apalagi penjara untuk orang-orang berduit? fasilitas lengkap, benar-benar mirip hotel. Mereka di penjara seperti sedang berlibur, pergi ke suatu tempat sampai waktu yang ditentukan, hingga orang-orang yang biasa melihat mereka, tidak pernah bertemu lagi tapi nanti akan kembali bertemu.
Seperti itukah efek jera yang kita inginkan untuk pemerkosa, pembunuh, pencuri, koruptor, dll?
Friday, August 26, 2016
CINTA LARA
Oleh Re Tiapian
tanggal 27082016
(1)
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" Pak Brata, ketua tim penyelidik kasus pembunuhan berantai yang sudah dua tahun menghantui, memulai rapat langsung pada intinya.
"Saya menemukan sesuatu Pak, dari hasil interogasi saya bersama rekan-rekan, ada kesamaan masa lalu antara dua korban. Mereka sama-sama pernah kuliah di Universitas A, dan bersahabat Pak."
Pak Brata diam, mencermati foto-foto yang ada di meja kerjanya sambil memikirkan apa yang sudah dilaporkan oleh anak buahnya.
'Pertama, kedua korban adalah lelaki. Kedua ... korban ternyata kuliah di tempat yang sama, bahkan bersahabat. Ketiga, semuanya dibunuh melalui kelaminnya. Dan keempat ... "rapat selesai! saya akan segera menyelidiki kampus mereka kuliah dulu, kalian terus cari tahu tentang pembunuh itu!" Pak Brata langsung memberi komando pada anak buahnya, lalu dia sendiri pergi dengan terburu-buru.
'Ah, sial! kenapa aku baru menyadari ini setelah bertahun-tahun?'
(2)
Lara melangkah dengan anggun, memasuki lobi hotel terbesar di kota yang sedang dia datangi. Dengan dress mini berwarna merah dan higheels 7cm dia melenggang penuh percaya diri, lalu duduk di depan bar mini hotel.
"menunggu seseorang, Nona?" seorang pria menghampirinya dan bertanya, namun dia hanya menanggapi dengan senyuman.
Baru saja lelaki itu mendekatinya, Lara berdiri melambai pada seseorang di depannya sambil tersenyum, lalu melangkah pergi mendekati pria yang ditunggunya.
"Apa kabar, Sayang?" sesampainya di kamar hotel, pria tinggi besar berkumis tipis itu berbisik pelan, seakan-akan takut tidak terdengar oleh gadis manis di dekapannya.
Tanpa menjawab pertanyaan kekasih gelapnya, Lara mendekatkan bibirnya ke bibir pria tua itu dan mengulumnya pelan. Lelakinya mulai tergugah, hingga membalas ciuman dengan tempo lebih cepat.
"mmhh ... desahan dan erangan semakin terdengar, keduanya mulai hanyut dalam pergumulan terlarang hingga ketika Lara mulai turun menuju selangkangan kekasihnya. dia mencium, menjilat dan menggigit, "argh, lagi sayang ...." sang jantan mengerang menikmati perlakuannya, Lara memegang kebanggaan para lelaki itu, dia meremasnya pelan-pelan, agak keras, keras keras dan sangat keras, membuat si lelaki menjerit kesakitan.
"Aarrggghhhh! Lara, apa yang kamu lakukan? hentikan!" teriakan pria itu tidak membuatnya menghentikan hal itu, justru dia semakin kencang melakukannya. Lara terus saja menekan dengan sekuat tenaga dua gelambir menjijikan itu.
"Aargh!" pria itu melotot kesakitan, mulutnya menganga lebar dan akhirnya diam tak bergerak. Darah keluar semakin banyak, merembes membasahi sprei.
Lara tersenyum tipis, "Kakak berhasil lagi, Dek." ucapnya pelan.
(3)
Satu tahun sebelumnya, di tempat yang berbeda. Matahari baru saja sepenggalan, namun di satu rumah kesibukan sudah mulai terjadi. Ada yang sibuk menata kursi-kursi, di satu sisi bapak-bapak sedang sibuk memasang janur kuning, ada pula para ibu yang sedang menata meja prasmanan dengan peralatan makannya. Sedangkan di bagian dalam rumah para wanita sibuk merias diri, dan pengantin wanita tersenyum di depan kaca, melihat penata rias mengubah wajahnya dengan sangat apik.
"Saya terima nikahnya, Andini binti Rohim dengan mas kawin emas sebesar 22gram dibayar tunai." pengantin pria lancar mengucapkan ijab kabul, senyum mengembang dari tamu yang hadir, tangis bahagia pun menyeruak dari semua keluarga.
Satu jam kemudian akad dilaksanakan, resepsi pun digelar tidak lama setelah ijab kabul. Tamu-tamu semakin banyak berdatangan, mereka turut bahagia dan mendoakan pasangan tersebut selalu berbahagia, sakinah, mawaddah dan warrahmah.
Akhirnya pesta pun usai. para tamu undangan sudah pulang, dan semua keluarga pun banyak yang kembali pulang karena tidak bisa menginap. Raja dan ratu sehari sudah masuk ke dalam peraduan, mereka tampak canggung awalnya, tapi lama-kelamaan suasana mencair dengan obrolan-obrolan ringan. sesekali, sang ratu dengan malu-malu menyuapi potongan buah apel yang dia sediakan sendiri.
"Neng, eh maaf, boleh kan aku panggil dengan sebutan itu?" raja sehari itu bertanya pada permaisurinya sambil memberanikan diri memegang tangan halus itu.
"Kamu panggil sayang, juga boleh," jawab istrinya genit.
"hmm ... kalau mau itu, boleh juga dong?" rayu pengantin pria lagi.
Tanpa bertanya dua kali, Andini sang ratu sehari langsung mengangguk pelan, dan tersenyum penuh arti. "Tapi ada syaratnya, Kang." jawabnya pelan, lalu membisikkan sesuatu ke telinga suaminya.
Awalnya pria putih kurus itu ragu, tapi karena melihat kerlingan manja istrinya, dia mengangguk pasti dan tersenyum simpul. "Akang mau, kalau Neng yang lakuin itu semua." bisiknya lembut.
Andini tidak menunggu lama untuk melakukannya. Dia langsung mengambil lima scarfnya, lalu mengikatkannya masing-masing pada kedua pasang tangan dan kaki suaminya, juga pada mulut yang tertawa pelan melihat aksi istrinya.
setelah itu dia mulai membuka satu persatu kancing baju suaminya, perlahan-lahan lalu turun menuju celana panjang yang dikenakan pria itu.
Wanita putih mulus itu menciumi seluruh tubuh suaminya, hingga di ujung perut dia berhenti untuk mengambil pisau buah yang ada di meja samping ranjang pengantin. Dia sentuh pelan simbol kejantanan semua pria, membuat suaminya melenguh pelan. Dia belai dengan lembut, dan tiba-tiba ... "kress!" dengan cepat pisau yang dia pegang memotong batang perkasa itu, hingga pengantin pria yang malang itu berteriak tanpa terdengar suaranya. Hanya suara cipratan darah yang keluar, dan hanya bisa didengar oleh istrinya, Andini, yang tersenyum dingin lalu berkata pelan, "aku berhasil, Dek."
(4)
"Sst, Dek? bangun!" Laras mengguncang-guncang tubuh adiknya, dia merasa mendengar sesuatu dari arah dapur. Sebenarnya dia ingin turun sendiri memeriksanya, tapi entah kenapa perasaannya tidak enak, apalagi di rumah dia hanya berdua dengan adiknya. Ayah dan ibunya sudah tiga hari ini di kampung, mereka berencana membuka cabang butik yang ada di Jakarta.
"Cinta bangun, aku dengar sesuatu di dapur!" Lara mulai tidak sabar, dia kembali membangunkan adiknya dengan mengguncang lebih keras.
"Apaan sih, Kak, ganggu aja? hoahm ...." Cinta protes pelan lalu menggeliat.
"Prang!"
"Ih, apaan tuh!" Cinta langsung bangun mendadak dari tidurnya, mendengar bunyi sesuatu yang jatuh di ruang tengah.
"Sssttt, pelan-pelan bicaranya! aku dari tadi dengar sesuatu dari dapur, makanya aku bangunin kamu!"
"Ayo kita lihat, Kak!" Cinta turun dari tempat tidur, dia mengambil raket nyamuk dari samping tempat tidur dan mengendap-endap membuka pintu. Lara mengikuti adiknya dari belakang.
Pelan-pelan mereka menuju ruang tengah, dan mengintip dari tembok pembatas antara ruang tengah dengan kamar mereka. di ruangan itu terlihat, dua orang lelaki sedang mencabut kabel-kabel televisi, dan satu orang yang mengawasi keadaan sekitar.
"Bug!" Cinta memukul punggung lelaki yang mengawasi keadaan. lelaki itu terkejut dan berteriak, membuat kedua temannya juga kaget dan spontan melepaskan pegangan pada tv hingga terjatuh.
"Siapa kalian? mau diapakan tv kami, hah?!"
Mereka bertiga saling berpandangan, lalu satu lelaki yang bertubuh besar maju perlahan.
"Berhenti! jangan berani-beraninya bergerak lagi atau ... aargh!" belum selesai Cinta berbicara, lelaki besar itu langsung menjambak rambutnya dan menarik kepala Cinta hingga dia terjatuh.
"Cintaa!" Lara berteriak panik, dia hendak maju menolong adiknya, tapi gerakannya tertahan oleh lelaki satunya yang bertubuh tinggi kurus. Lelaki itu menarik tangan Lara, mendorong paksa tubuh Lara hingga terjatuh di atas sofa.
"Tidaak, apa yang kamu lakukan? lepaskan aku! Cintaaa!" Lara berteriak melihat adiknya dikeroyok oleh dua orang lelaki, namun apa daya ... tubuhnya diikat oleh pria tinggi kurus itu di kursi, lalu setelah mengikatnya pria itu ikut mengeroyok adiknya.
"Kakaaak, tolong aku ... tidak, hentikan! tolooong!" Cinta berteriak minta tolong. dia tidak berdaya melawan tiga pria sekaligus, satu lelaki merobek pakaiannya, yang satu memegangi kedua tangan, yang satu lagi bersiap-siap membuka resleting celananya.
"Ayo Brata, tunjukkan kejantananmu, kita pesta malam ini! hahahaha!"
"Kakaaakk!"
"Tidaakkk! jangan sentuh adikku, atau kubunuh kalian semuanya!" Lara berteriak kalap, dia menggoyang-goyangkan tubuhnya namun ikatannya terlalu kuat. Dia hanya bisa melihat, adiknya digagahi tiga lelaki biadab sambil menangis.
(5)
Malam sudah sangat larut, jalanan di tol Cikampek terasa lengang, hanya ada beberapa mobil berseliweran keluar masuk tol.
Brata baru saja pulang dari kantornya, dia merasa lelah sekali mengurusi kasusnya. Dia masih menyesali kenapa selama ini tidak menyadari, kalau dua korban itu adalah teman-temanya di masa muda, masa yang membuatnya membawa rasa bersalah yang selalu menghantui selama ini.
Sesampainya di rumah, Brata langsung naik menuju kamarnya. Selama ini dia memang tinggal sendiri, sedangkan anak istrinya tinggal di Bandung, bersama kedua orangtua yang sudah sepuh.
Di kamar, Brata menyalakan lampu dan membuka jam serta melepas jaket dan sarung pistolnya lalu langsung merebahkan diri di kasur.
"Mmhh ... sayang?" Brata terbangun dari tidurnya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur, dan terbangun karena merasakan sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Aaahh ..." Brata mendesah nikmat, dia mengangkat kepalanya dan melihat ada kepala yang bergerak-gerak di antara kedua belah pahanya. Saat itulah dia mengetahui, kedua tangan dan kakinya telah terikat di tiap sisi tempat tidur.
"He-hei, siap-pa kamu?" Brata tergeragap, menahan rasa nikmat yang dia rasakan di antara rasa paniknya karena terikat.
"Wah, kok bisa berbarengan bangunnya?" si wanita mengangkat kepalanya, dia tersenyum setelah berkata begitu lalu membelai kemaluan Brata yang sudah tegak, membuat Brata mengerang nikmat.
"Kamu tahu, Brata? hari ini tepat hari ulang tahun adikku, Cinta. Kamu ingat dia? ah, tidak mungkin kamu lupa, bukankah kamu yang pertama kali menggagahinya?"
"Ma-mau apa, kamu?" Brata semakin panik, melihat si wanita mengeluarkan korek gas dari saku celana jeansnya.
"Aku cuma mau merayakan ulang tahun adikku, dan ini sebagai lilinnya." wanita itu menjawab dingin, sambil kembali mengusap simbol kegagahan Brata.
"Hei! aarrrgghhh!" Brata berteriak kesakitan. si wanita tidak memedulikan teriakannya, dia tetap membakar ujung kelaminnya.
"Teruslah berteriak, Brata. Berteriaklah, seperti adikku yang dulu berteriak kesakitan karena perbuatanmu yang biadab bersama teman-temanmu itu, ayo teriak lagi! hahahahaha!"
"Aaarggh!"
Lara menertawakan teriakan Brata. Dia terus tertawa, sambil menyiramkan bensin ke tubuh Brata lalu ke tubuhnya sendiri dan seluruh kamar. "Aku berhasil, selamat ulang tahun Dek?" ucapnya lirih, lalu membakar tubuh Brata dan dirinya sebelum melempar korek gas yang dia pegang ke tengah-tengah ruangan yang sudah tersiram bensin.
Di satu rumah sakit jiwa, seorang pasien wanita bertepuk tangan dan tertawa riang di atas kursi rodanya di tengah-tengah ruangan.
Tamat.
tanggal 27082016
(1)
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" Pak Brata, ketua tim penyelidik kasus pembunuhan berantai yang sudah dua tahun menghantui, memulai rapat langsung pada intinya.
"Saya menemukan sesuatu Pak, dari hasil interogasi saya bersama rekan-rekan, ada kesamaan masa lalu antara dua korban. Mereka sama-sama pernah kuliah di Universitas A, dan bersahabat Pak."
Pak Brata diam, mencermati foto-foto yang ada di meja kerjanya sambil memikirkan apa yang sudah dilaporkan oleh anak buahnya.
'Pertama, kedua korban adalah lelaki. Kedua ... korban ternyata kuliah di tempat yang sama, bahkan bersahabat. Ketiga, semuanya dibunuh melalui kelaminnya. Dan keempat ... "rapat selesai! saya akan segera menyelidiki kampus mereka kuliah dulu, kalian terus cari tahu tentang pembunuh itu!" Pak Brata langsung memberi komando pada anak buahnya, lalu dia sendiri pergi dengan terburu-buru.
'Ah, sial! kenapa aku baru menyadari ini setelah bertahun-tahun?'
(2)
Lara melangkah dengan anggun, memasuki lobi hotel terbesar di kota yang sedang dia datangi. Dengan dress mini berwarna merah dan higheels 7cm dia melenggang penuh percaya diri, lalu duduk di depan bar mini hotel.
"menunggu seseorang, Nona?" seorang pria menghampirinya dan bertanya, namun dia hanya menanggapi dengan senyuman.
Baru saja lelaki itu mendekatinya, Lara berdiri melambai pada seseorang di depannya sambil tersenyum, lalu melangkah pergi mendekati pria yang ditunggunya.
"Apa kabar, Sayang?" sesampainya di kamar hotel, pria tinggi besar berkumis tipis itu berbisik pelan, seakan-akan takut tidak terdengar oleh gadis manis di dekapannya.
Tanpa menjawab pertanyaan kekasih gelapnya, Lara mendekatkan bibirnya ke bibir pria tua itu dan mengulumnya pelan. Lelakinya mulai tergugah, hingga membalas ciuman dengan tempo lebih cepat.
"mmhh ... desahan dan erangan semakin terdengar, keduanya mulai hanyut dalam pergumulan terlarang hingga ketika Lara mulai turun menuju selangkangan kekasihnya. dia mencium, menjilat dan menggigit, "argh, lagi sayang ...." sang jantan mengerang menikmati perlakuannya, Lara memegang kebanggaan para lelaki itu, dia meremasnya pelan-pelan, agak keras, keras keras dan sangat keras, membuat si lelaki menjerit kesakitan.
"Aarrggghhhh! Lara, apa yang kamu lakukan? hentikan!" teriakan pria itu tidak membuatnya menghentikan hal itu, justru dia semakin kencang melakukannya. Lara terus saja menekan dengan sekuat tenaga dua gelambir menjijikan itu.
"Aargh!" pria itu melotot kesakitan, mulutnya menganga lebar dan akhirnya diam tak bergerak. Darah keluar semakin banyak, merembes membasahi sprei.
Lara tersenyum tipis, "Kakak berhasil lagi, Dek." ucapnya pelan.
(3)
Satu tahun sebelumnya, di tempat yang berbeda. Matahari baru saja sepenggalan, namun di satu rumah kesibukan sudah mulai terjadi. Ada yang sibuk menata kursi-kursi, di satu sisi bapak-bapak sedang sibuk memasang janur kuning, ada pula para ibu yang sedang menata meja prasmanan dengan peralatan makannya. Sedangkan di bagian dalam rumah para wanita sibuk merias diri, dan pengantin wanita tersenyum di depan kaca, melihat penata rias mengubah wajahnya dengan sangat apik.
"Saya terima nikahnya, Andini binti Rohim dengan mas kawin emas sebesar 22gram dibayar tunai." pengantin pria lancar mengucapkan ijab kabul, senyum mengembang dari tamu yang hadir, tangis bahagia pun menyeruak dari semua keluarga.
Satu jam kemudian akad dilaksanakan, resepsi pun digelar tidak lama setelah ijab kabul. Tamu-tamu semakin banyak berdatangan, mereka turut bahagia dan mendoakan pasangan tersebut selalu berbahagia, sakinah, mawaddah dan warrahmah.
Akhirnya pesta pun usai. para tamu undangan sudah pulang, dan semua keluarga pun banyak yang kembali pulang karena tidak bisa menginap. Raja dan ratu sehari sudah masuk ke dalam peraduan, mereka tampak canggung awalnya, tapi lama-kelamaan suasana mencair dengan obrolan-obrolan ringan. sesekali, sang ratu dengan malu-malu menyuapi potongan buah apel yang dia sediakan sendiri.
"Neng, eh maaf, boleh kan aku panggil dengan sebutan itu?" raja sehari itu bertanya pada permaisurinya sambil memberanikan diri memegang tangan halus itu.
"Kamu panggil sayang, juga boleh," jawab istrinya genit.
"hmm ... kalau mau itu, boleh juga dong?" rayu pengantin pria lagi.
Tanpa bertanya dua kali, Andini sang ratu sehari langsung mengangguk pelan, dan tersenyum penuh arti. "Tapi ada syaratnya, Kang." jawabnya pelan, lalu membisikkan sesuatu ke telinga suaminya.
Awalnya pria putih kurus itu ragu, tapi karena melihat kerlingan manja istrinya, dia mengangguk pasti dan tersenyum simpul. "Akang mau, kalau Neng yang lakuin itu semua." bisiknya lembut.
Andini tidak menunggu lama untuk melakukannya. Dia langsung mengambil lima scarfnya, lalu mengikatkannya masing-masing pada kedua pasang tangan dan kaki suaminya, juga pada mulut yang tertawa pelan melihat aksi istrinya.
setelah itu dia mulai membuka satu persatu kancing baju suaminya, perlahan-lahan lalu turun menuju celana panjang yang dikenakan pria itu.
Wanita putih mulus itu menciumi seluruh tubuh suaminya, hingga di ujung perut dia berhenti untuk mengambil pisau buah yang ada di meja samping ranjang pengantin. Dia sentuh pelan simbol kejantanan semua pria, membuat suaminya melenguh pelan. Dia belai dengan lembut, dan tiba-tiba ... "kress!" dengan cepat pisau yang dia pegang memotong batang perkasa itu, hingga pengantin pria yang malang itu berteriak tanpa terdengar suaranya. Hanya suara cipratan darah yang keluar, dan hanya bisa didengar oleh istrinya, Andini, yang tersenyum dingin lalu berkata pelan, "aku berhasil, Dek."
(4)
"Sst, Dek? bangun!" Laras mengguncang-guncang tubuh adiknya, dia merasa mendengar sesuatu dari arah dapur. Sebenarnya dia ingin turun sendiri memeriksanya, tapi entah kenapa perasaannya tidak enak, apalagi di rumah dia hanya berdua dengan adiknya. Ayah dan ibunya sudah tiga hari ini di kampung, mereka berencana membuka cabang butik yang ada di Jakarta.
"Cinta bangun, aku dengar sesuatu di dapur!" Lara mulai tidak sabar, dia kembali membangunkan adiknya dengan mengguncang lebih keras.
"Apaan sih, Kak, ganggu aja? hoahm ...." Cinta protes pelan lalu menggeliat.
"Prang!"
"Ih, apaan tuh!" Cinta langsung bangun mendadak dari tidurnya, mendengar bunyi sesuatu yang jatuh di ruang tengah.
"Sssttt, pelan-pelan bicaranya! aku dari tadi dengar sesuatu dari dapur, makanya aku bangunin kamu!"
"Ayo kita lihat, Kak!" Cinta turun dari tempat tidur, dia mengambil raket nyamuk dari samping tempat tidur dan mengendap-endap membuka pintu. Lara mengikuti adiknya dari belakang.
Pelan-pelan mereka menuju ruang tengah, dan mengintip dari tembok pembatas antara ruang tengah dengan kamar mereka. di ruangan itu terlihat, dua orang lelaki sedang mencabut kabel-kabel televisi, dan satu orang yang mengawasi keadaan sekitar.
"Bug!" Cinta memukul punggung lelaki yang mengawasi keadaan. lelaki itu terkejut dan berteriak, membuat kedua temannya juga kaget dan spontan melepaskan pegangan pada tv hingga terjatuh.
"Siapa kalian? mau diapakan tv kami, hah?!"
Mereka bertiga saling berpandangan, lalu satu lelaki yang bertubuh besar maju perlahan.
"Berhenti! jangan berani-beraninya bergerak lagi atau ... aargh!" belum selesai Cinta berbicara, lelaki besar itu langsung menjambak rambutnya dan menarik kepala Cinta hingga dia terjatuh.
"Cintaa!" Lara berteriak panik, dia hendak maju menolong adiknya, tapi gerakannya tertahan oleh lelaki satunya yang bertubuh tinggi kurus. Lelaki itu menarik tangan Lara, mendorong paksa tubuh Lara hingga terjatuh di atas sofa.
"Tidaak, apa yang kamu lakukan? lepaskan aku! Cintaaa!" Lara berteriak melihat adiknya dikeroyok oleh dua orang lelaki, namun apa daya ... tubuhnya diikat oleh pria tinggi kurus itu di kursi, lalu setelah mengikatnya pria itu ikut mengeroyok adiknya.
"Kakaaak, tolong aku ... tidak, hentikan! tolooong!" Cinta berteriak minta tolong. dia tidak berdaya melawan tiga pria sekaligus, satu lelaki merobek pakaiannya, yang satu memegangi kedua tangan, yang satu lagi bersiap-siap membuka resleting celananya.
"Ayo Brata, tunjukkan kejantananmu, kita pesta malam ini! hahahaha!"
"Kakaaakk!"
"Tidaakkk! jangan sentuh adikku, atau kubunuh kalian semuanya!" Lara berteriak kalap, dia menggoyang-goyangkan tubuhnya namun ikatannya terlalu kuat. Dia hanya bisa melihat, adiknya digagahi tiga lelaki biadab sambil menangis.
(5)
Malam sudah sangat larut, jalanan di tol Cikampek terasa lengang, hanya ada beberapa mobil berseliweran keluar masuk tol.
Brata baru saja pulang dari kantornya, dia merasa lelah sekali mengurusi kasusnya. Dia masih menyesali kenapa selama ini tidak menyadari, kalau dua korban itu adalah teman-temanya di masa muda, masa yang membuatnya membawa rasa bersalah yang selalu menghantui selama ini.
Sesampainya di rumah, Brata langsung naik menuju kamarnya. Selama ini dia memang tinggal sendiri, sedangkan anak istrinya tinggal di Bandung, bersama kedua orangtua yang sudah sepuh.
Di kamar, Brata menyalakan lampu dan membuka jam serta melepas jaket dan sarung pistolnya lalu langsung merebahkan diri di kasur.
"Mmhh ... sayang?" Brata terbangun dari tidurnya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur, dan terbangun karena merasakan sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Aaahh ..." Brata mendesah nikmat, dia mengangkat kepalanya dan melihat ada kepala yang bergerak-gerak di antara kedua belah pahanya. Saat itulah dia mengetahui, kedua tangan dan kakinya telah terikat di tiap sisi tempat tidur.
"He-hei, siap-pa kamu?" Brata tergeragap, menahan rasa nikmat yang dia rasakan di antara rasa paniknya karena terikat.
"Wah, kok bisa berbarengan bangunnya?" si wanita mengangkat kepalanya, dia tersenyum setelah berkata begitu lalu membelai kemaluan Brata yang sudah tegak, membuat Brata mengerang nikmat.
"Kamu tahu, Brata? hari ini tepat hari ulang tahun adikku, Cinta. Kamu ingat dia? ah, tidak mungkin kamu lupa, bukankah kamu yang pertama kali menggagahinya?"
"Ma-mau apa, kamu?" Brata semakin panik, melihat si wanita mengeluarkan korek gas dari saku celana jeansnya.
"Aku cuma mau merayakan ulang tahun adikku, dan ini sebagai lilinnya." wanita itu menjawab dingin, sambil kembali mengusap simbol kegagahan Brata.
"Hei! aarrrgghhh!" Brata berteriak kesakitan. si wanita tidak memedulikan teriakannya, dia tetap membakar ujung kelaminnya.
"Teruslah berteriak, Brata. Berteriaklah, seperti adikku yang dulu berteriak kesakitan karena perbuatanmu yang biadab bersama teman-temanmu itu, ayo teriak lagi! hahahahaha!"
"Aaarggh!"
Lara menertawakan teriakan Brata. Dia terus tertawa, sambil menyiramkan bensin ke tubuh Brata lalu ke tubuhnya sendiri dan seluruh kamar. "Aku berhasil, selamat ulang tahun Dek?" ucapnya lirih, lalu membakar tubuh Brata dan dirinya sebelum melempar korek gas yang dia pegang ke tengah-tengah ruangan yang sudah tersiram bensin.
Di satu rumah sakit jiwa, seorang pasien wanita bertepuk tangan dan tertawa riang di atas kursi rodanya di tengah-tengah ruangan.
Tamat.
Aulanya besar, penuh dengan wartawan dan anggota workshop yang sudah mulai memadati ruangan. Semua wartawan jepret sana jepret sini, ada yang terlihat sedang mewawancarai salah satu anggota workshop, dan ada juga yang masih menyiapkan keperluan wawancaranya.
"kenapa Ibu...Sri ikut acara workshop ini?" tanya salah satu wartawan dari stasiun tv terkenal setelah sebelumnya melihat nama yang tertempel di dada si ibu berjilbab biru. "saya senang sama penulisnya mas, saya sudah baca semua karyanya dan yang paling saya suka judulnya serpihan hati yang terkoyak. wiihh! sediiih banget mas saya bacanya! mas udah baca belum? baca dong mas kalau belum, tar nyesel loh! udah gitu mas ya, saya tuh penasaran banget sama penulisnya, dia itu laki-laki atau perempuan soalnya di setiap buku yang dia tulis namanya cuma EROS, itukan nama laki-laki ya mas kayak EROS DJAROT atau EROS Sheila On 7, juga laki-laki kan ya mas ya? tapi dia gosipnya perempuan mas mangkanya saya nekat datang ke sini jauh-jauh dari surabaya karena pengen tau saya mas, bener deh mas ciyuuss!" cerocos bu sri tanpa titik tanpa koma sambil senyum-senyum genit supaya kelihatan cantik di depan kamera. Si wartawan sampai bengong sambil berkata dalam hati " ya ampun nih ibu genitnyaaa minta ampun! kapok deh gue wawancara orang kayak begini!" Tak berapa lama kemudian terdengar suara dari pengeras suara "para hadirin yang terhormat mohon tenang semua karena acara akan segera di mulai sebentar lagi," dan tiba-tiba hening tak ada suara sama sekali, hanya suara cicak yang terdengar dan spontan para peserta workshop ber-shuutt ria sambil mendelik ke cicak yang tak bersalah sampai-sampai si cicak kabur dari ruangan.

"Rostianaaaa! gimana sih kamuuu, masa kayak begitu aja ga bisa?! " terdengar teriakan menggelegar dari rumah sebelah yang di iringi oleh suara tangisan seorang anak perempuan yang kesakitan karena di pukul oleh ibu tirinya. "ampun maaa, sakiit maa jangan pukulin saya lagi ma...hiks hiks hiks...". "apa kata kamu?! ampuunnn??? ga ada ampun ya buat anak lelet kayak kamu! sana masak lagi yang benar! jangan pakai lama ya, mama mau makan nih udah laper tauuuu! jangan lupa nyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring abis itu siram tanaman! JANGAN MAKAN SEBELUM SEMUANYA SELESAI!" jawab ibu tiri itu.
Begitulah tiap hari yang aku dengar dari tetangga dekat rumah, sebenarnya sedih aku mendengarnya, bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah harus melakukan semua pekerjaan rumah sendiri sewdangkan ibunya berleha-leha bahkan tega memukuli kalau pekerjaan yang di lakukan tidak sesuai dengan keinginannya. Menurut cerita yang aku dengar, anak manis itu sudah tidak punya orang tua sejak lahir namun ada orang yang berbaik hati mengangkatnya sebagai anak tapi ternyata kebaikannya hanya kedok, seminggu setelah dia mengambilnya sebagai anak si ibu mlai kelihatan aslinya, suka menyiksa tanpa belas kasihan tidak peduli dengan teriakan kesakitan ataupun tangisan memilukan dari anak yang malang itu.
Sebenarnya para tetangga sudah sering menegur si ibu tapi si ibu kejam itu tetap melakukan penyiksaannya, tidak peduli terhadap perkataan para tetangga.

"Mbak Eros Rostiana?" panggil inez sang sekretaris setelah hampir 1 jam menunggu di panggil akhirnya selesai juga masa penantiannya. Dengan langkah yang sengaja di buat anggun eros masuk ke dalam ruangan personalia sambil harap-harap cemas dan..."silakan duduk Mbak?" kata Bapak personalia itu sopan sambil memamerkan deretan gigi putihnya. "Terima kasih pak" jawab Eros tak kalah sopannya.
1 bulan sudah Eros bekerja di Perusahaan percetakan yang sudah berdiri lama itu dan dia pun cukup nyaman menjalani hari-harinya sebagai karyawan baru di sana hingga suatu hari...
"Ros bisa ke ruangan sebentar?" tanya Pak Bambang Direktur utama Perusahaan melalui telepon, 'baik pak, segera" jawab Eros dan segera menghentikan pekerjaannya lalu melangkahkan kaki menuju ruangan sang direktur.
"tok...tok...tok...permisi pak?" Eros bertanya di balik pintu. " masuk ros, silakan duduk dulu" sahut Pak Bambang lalu lanjutnya "Ros, hari ini kamu ikut saya ke hotel anu karena kita akan ada meeting mendadak dengan para Kacab 1 jam lagi, saya tunggu di bawah". "oh, begitu, baik Pak sebentar saya siap-siap dulu".
Sudah 2 jam Eros menunggu di ruangan yang sudah di sewa untuk meeting namun entah kenapa tidak ada satupun orang dari cabang yang datang dan sedari tadi di ruangan itu hanya ada dia berdua dengan Pak Bambang, dengan sabar Eros bertanya "Pak maaf, bagaimana ini? apakah meetingnya di batalkan atau tidak karena sudah 2 jam kita di sini tapi tidak ada tanda-tanda mereka akan datang pak". Alih-alih menjawab pertanyaannya, Pak Bambang malah berjalan menuju pintu dan menguncinya, dengan kaget Eros bertanya 'Pak ko di kunci?!" dan dengan tatapan yang membuat merinding bulu kuduk Pak Bambang berjalan mendekati Eros dan memeluknya dari belakang sambil menciumi tengkuknya.
"pak apa-apaan nih?! lepaskan saya pak!" teriak Eros sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan bos nya itu. "Ros, sudah lama saya memperhatikan kamu jadi kamu jangan coba-coba menolak saya karena kamu akan saya pecat kalau tidak mau menuruti keinginan saya, lagi pula kamu mau teriak sekencang apapun percuma karen ruangan ini kedap suara" ancam Pak Bambang sambil terus memaksa melepaskan kancing bajunya satu-persatu. 'TIDAAAKKKK....."

prok...prokk...prokkk...riuh sekali suara tepuk tangan dari para peserta dan wartawan yang hadir sambil berdiri sesaat setelah sang penulis selesai berpidato dan membagi ilmunya dalam kepenulisan yang baik dan benar. Semua mata yang melihatnya tersenyum sambil meneteskan air mata, rasa kagum, bangga, sekaligus kasihan menyeruak di dalam hati mereka setelah mendengar ceritanya tentang masa lalunya yang kelam selama 3 jam lebih sejak acara di mulai.
Setelah acara selesai para peserta workshop berebut minta tanda tangan dan foto-foto bersama penulis yang mereka kagumi itu ketika tiba-tiba....DORRRR! suara yang sangat mengagetkan sekaligus menyentak semua yang ada di ruangan hingga semakin ramailah suasana, yang perempuan berteriak ketakutan, yang laki-laki tak mau mengalah semua berebut ingin keluar ruangan lebih dulu karena takut ada tembakan susulan.
Polisi sudah berdatangan, ada yang sedang menginterogasi panitia dan pengunjung, ada yang sedang memeriksa tempat kejadian perkara, ada juga yang sedang mengurus jenazah satu-satunya di ruangan itu. Ya...jenazah itu adalah jenazah sang penulis yang baru saja membuat semua yang hadir terkesima dengan tutur katanya, terharu dengan kisah hidupnya, dan kagum dengan ilmu-ilmu yang di berikannya.
Ya benar, sang peulis telah pergi meninggalkan dunia yang kejam dengan bersimbah darah namun anehnya jenazah itu pergi dengan tersenyum...senyum yang menyayat hati semua yang melihat.

1 bulan kemudian...
"Koran koran...korannya Pak, ayo ayo ayooo di beli Pak, Bu, ada berita hangat berita hangat berita hangatt!!! pembunuh sang penulis telah di tangkap! ayo Pak, Bu, yang penasaran sama siapa pembunuh sebenarnya ayo di beli korannya!" teriak tukang koran berumur tanggung itu di bis menuju Surabaya yang aku tumpangi.
"Pembunuh sang penulis tertangkap!". Begitu bunyi headline koran yang aku baca, dan semakin banyak aku baca semakin banyak tetesan air mata keluar dan membasahi koran. "YaALLAH! Sungguh tragis sekali jalan hidupmu nak" pikirku dan tak ayal ingatan ku kembali melayang ke masa lalu ketika aku akhirnya bisa menolong anak manis yang malang itu dari siksaan ibu tirinya dan ku serahkan dia ke panti asuhan. sejak itu aku tidak mendengar lagi kabar darinya hingga suatu hari dia datang sambil menangis dan memelukku dia bercerita bahwa selama ini dia selalu mendapatkan pelecehan seksual dari bosnya sendiri dan dia datang kepadaku untuk meminta tolong sekali lagi membantunya melaporkan hal itu ke polisi karena dia takut dengan ancaman bosnya.
Dan ternyata setelah orang biadab itu lepas dari penjara dia masih menyimpan dendam pada Eros hingga nekat membunuhnya di depan orang banyak saat mengadakan acara workshop di Jakarta.
Ya Allah, semoga Engkau menempatkannya di sisi-Mu, aku yakin dia lebih baik berada di pelukan-Mu saat ini daripada berada di dekapan bumi yang kejam padanya doaku dalam hati. Tamat
Subscribe to:
Comments (Atom)