Aulanya besar, penuh dengan wartawan dan anggota workshop yang sudah mulai memadati ruangan. Semua wartawan jepret sana jepret sini, ada yang terlihat sedang mewawancarai salah satu anggota workshop, dan ada juga yang masih menyiapkan keperluan wawancaranya.
"kenapa Ibu...Sri ikut acara workshop ini?" tanya salah satu wartawan dari stasiun tv terkenal setelah sebelumnya melihat nama yang tertempel di dada si ibu berjilbab biru. "saya senang sama penulisnya mas, saya sudah baca semua karyanya dan yang paling saya suka judulnya serpihan hati yang terkoyak. wiihh! sediiih banget mas saya bacanya! mas udah baca belum? baca dong mas kalau belum, tar nyesel loh! udah gitu mas ya, saya tuh penasaran banget sama penulisnya, dia itu laki-laki atau perempuan soalnya di setiap buku yang dia tulis namanya cuma EROS, itukan nama laki-laki ya mas kayak EROS DJAROT atau EROS Sheila On 7, juga laki-laki kan ya mas ya? tapi dia gosipnya perempuan mas mangkanya saya nekat datang ke sini jauh-jauh dari surabaya karena pengen tau saya mas, bener deh mas ciyuuss!" cerocos bu sri tanpa titik tanpa koma sambil senyum-senyum genit supaya kelihatan cantik di depan kamera. Si wartawan sampai bengong sambil berkata dalam hati " ya ampun nih ibu genitnyaaa minta ampun! kapok deh gue wawancara orang kayak begini!" Tak berapa lama kemudian terdengar suara dari pengeras suara "para hadirin yang terhormat mohon tenang semua karena acara akan segera di mulai sebentar lagi," dan tiba-tiba hening tak ada suara sama sekali, hanya suara cicak yang terdengar dan spontan para peserta workshop ber-shuutt ria sambil mendelik ke cicak yang tak bersalah sampai-sampai si cicak kabur dari ruangan.

"Rostianaaaa! gimana sih kamuuu, masa kayak begitu aja ga bisa?! " terdengar teriakan menggelegar dari rumah sebelah yang di iringi oleh suara tangisan seorang anak perempuan yang kesakitan karena di pukul oleh ibu tirinya. "ampun maaa, sakiit maa jangan pukulin saya lagi ma...hiks hiks hiks...". "apa kata kamu?! ampuunnn??? ga ada ampun ya buat anak lelet kayak kamu! sana masak lagi yang benar! jangan pakai lama ya, mama mau makan nih udah laper tauuuu! jangan lupa nyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring abis itu siram tanaman! JANGAN MAKAN SEBELUM SEMUANYA SELESAI!" jawab ibu tiri itu.
Begitulah tiap hari yang aku dengar dari tetangga dekat rumah, sebenarnya sedih aku mendengarnya, bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah harus melakukan semua pekerjaan rumah sendiri sewdangkan ibunya berleha-leha bahkan tega memukuli kalau pekerjaan yang di lakukan tidak sesuai dengan keinginannya. Menurut cerita yang aku dengar, anak manis itu sudah tidak punya orang tua sejak lahir namun ada orang yang berbaik hati mengangkatnya sebagai anak tapi ternyata kebaikannya hanya kedok, seminggu setelah dia mengambilnya sebagai anak si ibu mlai kelihatan aslinya, suka menyiksa tanpa belas kasihan tidak peduli dengan teriakan kesakitan ataupun tangisan memilukan dari anak yang malang itu.
Sebenarnya para tetangga sudah sering menegur si ibu tapi si ibu kejam itu tetap melakukan penyiksaannya, tidak peduli terhadap perkataan para tetangga.

"Mbak Eros Rostiana?" panggil inez sang sekretaris setelah hampir 1 jam menunggu di panggil akhirnya selesai juga masa penantiannya. Dengan langkah yang sengaja di buat anggun eros masuk ke dalam ruangan personalia sambil harap-harap cemas dan..."silakan duduk Mbak?" kata Bapak personalia itu sopan sambil memamerkan deretan gigi putihnya. "Terima kasih pak" jawab Eros tak kalah sopannya.
1 bulan sudah Eros bekerja di Perusahaan percetakan yang sudah berdiri lama itu dan dia pun cukup nyaman menjalani hari-harinya sebagai karyawan baru di sana hingga suatu hari...
"Ros bisa ke ruangan sebentar?" tanya Pak Bambang Direktur utama Perusahaan melalui telepon, 'baik pak, segera" jawab Eros dan segera menghentikan pekerjaannya lalu melangkahkan kaki menuju ruangan sang direktur.
"tok...tok...tok...permisi pak?" Eros bertanya di balik pintu. " masuk ros, silakan duduk dulu" sahut Pak Bambang lalu lanjutnya "Ros, hari ini kamu ikut saya ke hotel anu karena kita akan ada meeting mendadak dengan para Kacab 1 jam lagi, saya tunggu di bawah". "oh, begitu, baik Pak sebentar saya siap-siap dulu".
Sudah 2 jam Eros menunggu di ruangan yang sudah di sewa untuk meeting namun entah kenapa tidak ada satupun orang dari cabang yang datang dan sedari tadi di ruangan itu hanya ada dia berdua dengan Pak Bambang, dengan sabar Eros bertanya "Pak maaf, bagaimana ini? apakah meetingnya di batalkan atau tidak karena sudah 2 jam kita di sini tapi tidak ada tanda-tanda mereka akan datang pak". Alih-alih menjawab pertanyaannya, Pak Bambang malah berjalan menuju pintu dan menguncinya, dengan kaget Eros bertanya 'Pak ko di kunci?!" dan dengan tatapan yang membuat merinding bulu kuduk Pak Bambang berjalan mendekati Eros dan memeluknya dari belakang sambil menciumi tengkuknya.
"pak apa-apaan nih?! lepaskan saya pak!" teriak Eros sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan bos nya itu. "Ros, sudah lama saya memperhatikan kamu jadi kamu jangan coba-coba menolak saya karena kamu akan saya pecat kalau tidak mau menuruti keinginan saya, lagi pula kamu mau teriak sekencang apapun percuma karen ruangan ini kedap suara" ancam Pak Bambang sambil terus memaksa melepaskan kancing bajunya satu-persatu. 'TIDAAAKKKK....."

prok...prokk...prokkk...riuh sekali suara tepuk tangan dari para peserta dan wartawan yang hadir sambil berdiri sesaat setelah sang penulis selesai berpidato dan membagi ilmunya dalam kepenulisan yang baik dan benar. Semua mata yang melihatnya tersenyum sambil meneteskan air mata, rasa kagum, bangga, sekaligus kasihan menyeruak di dalam hati mereka setelah mendengar ceritanya tentang masa lalunya yang kelam selama 3 jam lebih sejak acara di mulai.
Setelah acara selesai para peserta workshop berebut minta tanda tangan dan foto-foto bersama penulis yang mereka kagumi itu ketika tiba-tiba....DORRRR! suara yang sangat mengagetkan sekaligus menyentak semua yang ada di ruangan hingga semakin ramailah suasana, yang perempuan berteriak ketakutan, yang laki-laki tak mau mengalah semua berebut ingin keluar ruangan lebih dulu karena takut ada tembakan susulan.
Polisi sudah berdatangan, ada yang sedang menginterogasi panitia dan pengunjung, ada yang sedang memeriksa tempat kejadian perkara, ada juga yang sedang mengurus jenazah satu-satunya di ruangan itu. Ya...jenazah itu adalah jenazah sang penulis yang baru saja membuat semua yang hadir terkesima dengan tutur katanya, terharu dengan kisah hidupnya, dan kagum dengan ilmu-ilmu yang di berikannya.
Ya benar, sang peulis telah pergi meninggalkan dunia yang kejam dengan bersimbah darah namun anehnya jenazah itu pergi dengan tersenyum...senyum yang menyayat hati semua yang melihat.

1 bulan kemudian...
"Koran koran...korannya Pak, ayo ayo ayooo di beli Pak, Bu, ada berita hangat berita hangat berita hangatt!!! pembunuh sang penulis telah di tangkap! ayo Pak, Bu, yang penasaran sama siapa pembunuh sebenarnya ayo di beli korannya!" teriak tukang koran berumur tanggung itu di bis menuju Surabaya yang aku tumpangi.
"Pembunuh sang penulis tertangkap!". Begitu bunyi headline koran yang aku baca, dan semakin banyak aku baca semakin banyak tetesan air mata keluar dan membasahi koran. "YaALLAH! Sungguh tragis sekali jalan hidupmu nak" pikirku dan tak ayal ingatan ku kembali melayang ke masa lalu ketika aku akhirnya bisa menolong anak manis yang malang itu dari siksaan ibu tirinya dan ku serahkan dia ke panti asuhan. sejak itu aku tidak mendengar lagi kabar darinya hingga suatu hari dia datang sambil menangis dan memelukku dia bercerita bahwa selama ini dia selalu mendapatkan pelecehan seksual dari bosnya sendiri dan dia datang kepadaku untuk meminta tolong sekali lagi membantunya melaporkan hal itu ke polisi karena dia takut dengan ancaman bosnya.
Dan ternyata setelah orang biadab itu lepas dari penjara dia masih menyimpan dendam pada Eros hingga nekat membunuhnya di depan orang banyak saat mengadakan acara workshop di Jakarta.
Ya Allah, semoga Engkau menempatkannya di sisi-Mu, aku yakin dia lebih baik berada di pelukan-Mu saat ini daripada berada di dekapan bumi yang kejam padanya doaku dalam hati. Tamat
No comments:
Post a Comment