Oleh Re Tiapian
tanggal 27082016
(1)
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" Pak Brata, ketua tim penyelidik kasus pembunuhan berantai yang sudah dua tahun menghantui, memulai rapat langsung pada intinya.
"Saya menemukan sesuatu Pak, dari hasil interogasi saya bersama rekan-rekan, ada kesamaan masa lalu antara dua korban. Mereka sama-sama pernah kuliah di Universitas A, dan bersahabat Pak."
Pak Brata diam, mencermati foto-foto yang ada di meja kerjanya sambil memikirkan apa yang sudah dilaporkan oleh anak buahnya.
'Pertama, kedua korban adalah lelaki. Kedua ... korban ternyata kuliah di tempat yang sama, bahkan bersahabat. Ketiga, semuanya dibunuh melalui kelaminnya. Dan keempat ... "rapat selesai! saya akan segera menyelidiki kampus mereka kuliah dulu, kalian terus cari tahu tentang pembunuh itu!" Pak Brata langsung memberi komando pada anak buahnya, lalu dia sendiri pergi dengan terburu-buru.
'Ah, sial! kenapa aku baru menyadari ini setelah bertahun-tahun?'
(2)
Lara melangkah dengan anggun, memasuki lobi hotel terbesar di kota yang sedang dia datangi. Dengan dress mini berwarna merah dan higheels 7cm dia melenggang penuh percaya diri, lalu duduk di depan bar mini hotel.
"menunggu seseorang, Nona?" seorang pria menghampirinya dan bertanya, namun dia hanya menanggapi dengan senyuman.
Baru saja lelaki itu mendekatinya, Lara berdiri melambai pada seseorang di depannya sambil tersenyum, lalu melangkah pergi mendekati pria yang ditunggunya.
"Apa kabar, Sayang?" sesampainya di kamar hotel, pria tinggi besar berkumis tipis itu berbisik pelan, seakan-akan takut tidak terdengar oleh gadis manis di dekapannya.
Tanpa menjawab pertanyaan kekasih gelapnya, Lara mendekatkan bibirnya ke bibir pria tua itu dan mengulumnya pelan. Lelakinya mulai tergugah, hingga membalas ciuman dengan tempo lebih cepat.
"mmhh ... desahan dan erangan semakin terdengar, keduanya mulai hanyut dalam pergumulan terlarang hingga ketika Lara mulai turun menuju selangkangan kekasihnya. dia mencium, menjilat dan menggigit, "argh, lagi sayang ...." sang jantan mengerang menikmati perlakuannya, Lara memegang kebanggaan para lelaki itu, dia meremasnya pelan-pelan, agak keras, keras keras dan sangat keras, membuat si lelaki menjerit kesakitan.
"Aarrggghhhh! Lara, apa yang kamu lakukan? hentikan!" teriakan pria itu tidak membuatnya menghentikan hal itu, justru dia semakin kencang melakukannya. Lara terus saja menekan dengan sekuat tenaga dua gelambir menjijikan itu.
"Aargh!" pria itu melotot kesakitan, mulutnya menganga lebar dan akhirnya diam tak bergerak. Darah keluar semakin banyak, merembes membasahi sprei.
Lara tersenyum tipis, "Kakak berhasil lagi, Dek." ucapnya pelan.
(3)
Satu tahun sebelumnya, di tempat yang berbeda. Matahari baru saja sepenggalan, namun di satu rumah kesibukan sudah mulai terjadi. Ada yang sibuk menata kursi-kursi, di satu sisi bapak-bapak sedang sibuk memasang janur kuning, ada pula para ibu yang sedang menata meja prasmanan dengan peralatan makannya. Sedangkan di bagian dalam rumah para wanita sibuk merias diri, dan pengantin wanita tersenyum di depan kaca, melihat penata rias mengubah wajahnya dengan sangat apik.
"Saya terima nikahnya, Andini binti Rohim dengan mas kawin emas sebesar 22gram dibayar tunai." pengantin pria lancar mengucapkan ijab kabul, senyum mengembang dari tamu yang hadir, tangis bahagia pun menyeruak dari semua keluarga.
Satu jam kemudian akad dilaksanakan, resepsi pun digelar tidak lama setelah ijab kabul. Tamu-tamu semakin banyak berdatangan, mereka turut bahagia dan mendoakan pasangan tersebut selalu berbahagia, sakinah, mawaddah dan warrahmah.
Akhirnya pesta pun usai. para tamu undangan sudah pulang, dan semua keluarga pun banyak yang kembali pulang karena tidak bisa menginap. Raja dan ratu sehari sudah masuk ke dalam peraduan, mereka tampak canggung awalnya, tapi lama-kelamaan suasana mencair dengan obrolan-obrolan ringan. sesekali, sang ratu dengan malu-malu menyuapi potongan buah apel yang dia sediakan sendiri.
"Neng, eh maaf, boleh kan aku panggil dengan sebutan itu?" raja sehari itu bertanya pada permaisurinya sambil memberanikan diri memegang tangan halus itu.
"Kamu panggil sayang, juga boleh," jawab istrinya genit.
"hmm ... kalau mau itu, boleh juga dong?" rayu pengantin pria lagi.
Tanpa bertanya dua kali, Andini sang ratu sehari langsung mengangguk pelan, dan tersenyum penuh arti. "Tapi ada syaratnya, Kang." jawabnya pelan, lalu membisikkan sesuatu ke telinga suaminya.
Awalnya pria putih kurus itu ragu, tapi karena melihat kerlingan manja istrinya, dia mengangguk pasti dan tersenyum simpul. "Akang mau, kalau Neng yang lakuin itu semua." bisiknya lembut.
Andini tidak menunggu lama untuk melakukannya. Dia langsung mengambil lima scarfnya, lalu mengikatkannya masing-masing pada kedua pasang tangan dan kaki suaminya, juga pada mulut yang tertawa pelan melihat aksi istrinya.
setelah itu dia mulai membuka satu persatu kancing baju suaminya, perlahan-lahan lalu turun menuju celana panjang yang dikenakan pria itu.
Wanita putih mulus itu menciumi seluruh tubuh suaminya, hingga di ujung perut dia berhenti untuk mengambil pisau buah yang ada di meja samping ranjang pengantin. Dia sentuh pelan simbol kejantanan semua pria, membuat suaminya melenguh pelan. Dia belai dengan lembut, dan tiba-tiba ... "kress!" dengan cepat pisau yang dia pegang memotong batang perkasa itu, hingga pengantin pria yang malang itu berteriak tanpa terdengar suaranya. Hanya suara cipratan darah yang keluar, dan hanya bisa didengar oleh istrinya, Andini, yang tersenyum dingin lalu berkata pelan, "aku berhasil, Dek."
(4)
"Sst, Dek? bangun!" Laras mengguncang-guncang tubuh adiknya, dia merasa mendengar sesuatu dari arah dapur. Sebenarnya dia ingin turun sendiri memeriksanya, tapi entah kenapa perasaannya tidak enak, apalagi di rumah dia hanya berdua dengan adiknya. Ayah dan ibunya sudah tiga hari ini di kampung, mereka berencana membuka cabang butik yang ada di Jakarta.
"Cinta bangun, aku dengar sesuatu di dapur!" Lara mulai tidak sabar, dia kembali membangunkan adiknya dengan mengguncang lebih keras.
"Apaan sih, Kak, ganggu aja? hoahm ...." Cinta protes pelan lalu menggeliat.
"Prang!"
"Ih, apaan tuh!" Cinta langsung bangun mendadak dari tidurnya, mendengar bunyi sesuatu yang jatuh di ruang tengah.
"Sssttt, pelan-pelan bicaranya! aku dari tadi dengar sesuatu dari dapur, makanya aku bangunin kamu!"
"Ayo kita lihat, Kak!" Cinta turun dari tempat tidur, dia mengambil raket nyamuk dari samping tempat tidur dan mengendap-endap membuka pintu. Lara mengikuti adiknya dari belakang.
Pelan-pelan mereka menuju ruang tengah, dan mengintip dari tembok pembatas antara ruang tengah dengan kamar mereka. di ruangan itu terlihat, dua orang lelaki sedang mencabut kabel-kabel televisi, dan satu orang yang mengawasi keadaan sekitar.
"Bug!" Cinta memukul punggung lelaki yang mengawasi keadaan. lelaki itu terkejut dan berteriak, membuat kedua temannya juga kaget dan spontan melepaskan pegangan pada tv hingga terjatuh.
"Siapa kalian? mau diapakan tv kami, hah?!"
Mereka bertiga saling berpandangan, lalu satu lelaki yang bertubuh besar maju perlahan.
"Berhenti! jangan berani-beraninya bergerak lagi atau ... aargh!" belum selesai Cinta berbicara, lelaki besar itu langsung menjambak rambutnya dan menarik kepala Cinta hingga dia terjatuh.
"Cintaa!" Lara berteriak panik, dia hendak maju menolong adiknya, tapi gerakannya tertahan oleh lelaki satunya yang bertubuh tinggi kurus. Lelaki itu menarik tangan Lara, mendorong paksa tubuh Lara hingga terjatuh di atas sofa.
"Tidaak, apa yang kamu lakukan? lepaskan aku! Cintaaa!" Lara berteriak melihat adiknya dikeroyok oleh dua orang lelaki, namun apa daya ... tubuhnya diikat oleh pria tinggi kurus itu di kursi, lalu setelah mengikatnya pria itu ikut mengeroyok adiknya.
"Kakaaak, tolong aku ... tidak, hentikan! tolooong!" Cinta berteriak minta tolong. dia tidak berdaya melawan tiga pria sekaligus, satu lelaki merobek pakaiannya, yang satu memegangi kedua tangan, yang satu lagi bersiap-siap membuka resleting celananya.
"Ayo Brata, tunjukkan kejantananmu, kita pesta malam ini! hahahaha!"
"Kakaaakk!"
"Tidaakkk! jangan sentuh adikku, atau kubunuh kalian semuanya!" Lara berteriak kalap, dia menggoyang-goyangkan tubuhnya namun ikatannya terlalu kuat. Dia hanya bisa melihat, adiknya digagahi tiga lelaki biadab sambil menangis.
(5)
Malam sudah sangat larut, jalanan di tol Cikampek terasa lengang, hanya ada beberapa mobil berseliweran keluar masuk tol.
Brata baru saja pulang dari kantornya, dia merasa lelah sekali mengurusi kasusnya. Dia masih menyesali kenapa selama ini tidak menyadari, kalau dua korban itu adalah teman-temanya di masa muda, masa yang membuatnya membawa rasa bersalah yang selalu menghantui selama ini.
Sesampainya di rumah, Brata langsung naik menuju kamarnya. Selama ini dia memang tinggal sendiri, sedangkan anak istrinya tinggal di Bandung, bersama kedua orangtua yang sudah sepuh.
Di kamar, Brata menyalakan lampu dan membuka jam serta melepas jaket dan sarung pistolnya lalu langsung merebahkan diri di kasur.
"Mmhh ... sayang?" Brata terbangun dari tidurnya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur, dan terbangun karena merasakan sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Aaahh ..." Brata mendesah nikmat, dia mengangkat kepalanya dan melihat ada kepala yang bergerak-gerak di antara kedua belah pahanya. Saat itulah dia mengetahui, kedua tangan dan kakinya telah terikat di tiap sisi tempat tidur.
"He-hei, siap-pa kamu?" Brata tergeragap, menahan rasa nikmat yang dia rasakan di antara rasa paniknya karena terikat.
"Wah, kok bisa berbarengan bangunnya?" si wanita mengangkat kepalanya, dia tersenyum setelah berkata begitu lalu membelai kemaluan Brata yang sudah tegak, membuat Brata mengerang nikmat.
"Kamu tahu, Brata? hari ini tepat hari ulang tahun adikku, Cinta. Kamu ingat dia? ah, tidak mungkin kamu lupa, bukankah kamu yang pertama kali menggagahinya?"
"Ma-mau apa, kamu?" Brata semakin panik, melihat si wanita mengeluarkan korek gas dari saku celana jeansnya.
"Aku cuma mau merayakan ulang tahun adikku, dan ini sebagai lilinnya." wanita itu menjawab dingin, sambil kembali mengusap simbol kegagahan Brata.
"Hei! aarrrgghhh!" Brata berteriak kesakitan. si wanita tidak memedulikan teriakannya, dia tetap membakar ujung kelaminnya.
"Teruslah berteriak, Brata. Berteriaklah, seperti adikku yang dulu berteriak kesakitan karena perbuatanmu yang biadab bersama teman-temanmu itu, ayo teriak lagi! hahahahaha!"
"Aaarggh!"
Lara menertawakan teriakan Brata. Dia terus tertawa, sambil menyiramkan bensin ke tubuh Brata lalu ke tubuhnya sendiri dan seluruh kamar. "Aku berhasil, selamat ulang tahun Dek?" ucapnya lirih, lalu membakar tubuh Brata dan dirinya sebelum melempar korek gas yang dia pegang ke tengah-tengah ruangan yang sudah tersiram bensin.
Di satu rumah sakit jiwa, seorang pasien wanita bertepuk tangan dan tertawa riang di atas kursi rodanya di tengah-tengah ruangan.
Tamat.
Udah baca. Vulgar ye...
ReplyDeleteMirip2 kayak di wattpad. Tapi imajenasinya bagus.
Cuma EYD masih harus diperbaiki lagi.
huaaaa! eyd yang mana Bun? enggak pantes dikirim ke koran dong ya Bun, kalau vulgar? kata Mbak Rie biasa aja
ReplyDelete