Satu september 2016, mengingatkanku pada hari kesaktian pancasila yang makin hilang ditelan masa. Ada apa dengan hari kesaktian pancasila, ada apa dengan pancasila, apakah burung garuda benar-benar sudah punah, atau karena usia Indonesia yang sudah uzur, jadi pancasila kini mati kehilangan makna?
Innalillahi wainna ilaihi raajiun ....
Padahal dulu, jamannya TV masih hitam putih aku selalu menonton filmnya sampai selesai, menunggu dengan setia film itu tayang di tengah malam, rela begadang sampai subuh demi ingin melihat pahlawan-pahlawan kita berjuang membela negara hingga diculik, disiksa, dianiaya, dibunuh dengan tidak manusiawi. Aku ingat betul, selalu menangis terharu di tiap adegan dan itu selalu terus aku tonton padahal sudah sering melihatnya.
Aku bukan ingin film itu diputar lagi, tidak! tapi terlepas benar atau tidaknya kejadian itu, atau kebohongan yang dilakukan almarhum pada Indonesia selama hidupnya, aku rasa hari kesaktian pancasila semestinya tetap ada untuk terus membangkitkan semangat nasionalisme kita, agar kita selalu waspada pada bahaya-bahaya yang mengancam keutuhan Indonesia, supaya kejadian kelam di masa lalu tidak terulang lagi. Aku takut, sungguh teramat takut ormas itu kembali muncul lagi. Entah bagaimana jika itu terjadi. Apakah kita akan menyalahkan almarhum?
Benar atau tidaknya semua itu, kita tetap harus mengakui hal-hal positif yang almarhum lakukan juga tetap patut kita ingat. Lagi pula, menurutku tidak ada gunanya kita menyimpan kebencian yang amat sangat teramat dalam pada orang yang sudah meninggal. Apakah ada gunanya, membenci orang yang sudah tinggal tulang-belulang di dalam kubur?
Bisakah kita membuat lambang dan dasar negara kita kembali gagah? menurutku bisa, mungkin dengan cara seperti kita selalu memperingati hari kemerdekaan, untuk membangkitkan rasa bangga pada Indonesia di hati anak-anak kita. Seharusnya, pancasila bisa tetap sakti walau tanpa ormas terkutuk itu. pancasila tetap sakti, tanpa harus membangkitkan rasa takut kita pada kejadian kelam di masa lalu.
Bangkitlah wahai para pemuda! aku tahu kita sudah kecewa dengan semua yang telah mereka para penguasa lakukan, tapi demi Allah, tidakkah ada terbersit keinginan untuk melawan? tidakkah ada rasa untuk benar-benar memperbaiki Indonesia, mencabut hingga akarnya semua yang membuat hati terluka, robek, berdarah ini? adakah wahai kawan?
Allahu akbar, aku ingin menangis memikirkan ini, tapi apalah daya ... aku hanya sebutir debu yang tidak mungkin terlihat, aku hanya bisa berteriak sendiri dalam hati melihat semuanya, sungguh tidak ikhlas, tidak rela hati ini mengetahui kebobrokan Indonesia. Makin tua bukannya makin berjaya, tapi makin mengkerut! ingin rasanya berteriak, mengucapkan sumpah serapah, kata-kata kotor, hinaan dan caci-maki pada orang-orang yang telah melakukan ini pada Indonesia ... AAAARRRGGGGGHHHHH! TUHAN, TURUNKAN ADZAB-MU PADA MEREKA YANG TELAH DURHAKA PADA INDONESIA!
Dulu kita adalah negara berkembang, tapi kini kita negara yang telah layu, tinggal menunggu kelopaknya berguguran dan terbang dihempas angin!
Essainya bagus ini kalau diriset, dikemas ulang terus dikirim ke koran. Tema pancasila. pas itu tanggal 1-oktober nanti.
ReplyDeleteHari kesaktian Pancasila
enggak pede :D
ReplyDelete